Simbol Keagamaan di Tempat Umum

oleh Tariq Ramadan
26 Januari 2007
Cetak
Email
London Tak ada yang lebih unik dari kontroversi tentang simbol-simbol keagamaan yang membangkitkan kemarahan pada hari raya Natal di Kanada. Setelah perdebatan yang memanas tentang isu jilbab di Perancis, banyak negara Barat yang mengalami protes-protes serupa. Berbagai peristiwa ini membidikkan sasarannya terhadap pemakaian salib yang terlalu berlebihan, kemudian menara yang terlalu menyolok di Swiss; ada beberapa keluhan terhadap pakaian keagamaan yang "ofensif" di Belanda dan Inggris, dan yang terakhir adalah serangkaian keputusan aneh menyangkut penyingkiran pohon-pohon Natal di Amerika Serikat dan Kanada. Pada setiap putaran, kita dihadapkan dengan berbagai reaksi yang berapi-api dan irasional yang jika tidak semakin mengumpani perasaan sebagai korban di kalangan mereka yang melihat Islamofobia kemana pun mereka pergi, maka memperbesar perasaan bahwa keragaman kebudayaan suatu negara berada dalam bahaya, karena ia sedang dijajah oleh suatu agama asing.

Begitu parahnya kepekaan ini sehingga pihak berwenang dalam bidang hukum atau artistik mengantisipasi reaksi-reaksi negatif tersebut, dan bahkan melakukan tindakan-tindakan pencegahannya. Orang hanya perlu melihat ke Jerman, di mana sebuah opera Mozart belum lama ini ditunda karena sebuah telepon yang menyarankan bahwa hal tersebut tidak dapat diterima umat Muslim. Di Kanada, pohon-pohon Natal disingkirkan karena mereka dapat menyinggung perasaan non-Kristen.

Tingkat ketidaknyamanan dalam masyarakat kita sedang meningkat, atau begitulah kelihatannya. Secara teori, kita mengagungkan keragaman dan toleransi. Tetapi dalam kehidupan nyata, kita terganggu dan menarik diri kita sendiri. Dewasa ini, siapa yang dapat memastikan dengan penuh keyakinan apa yang berhak ia katakan atau tampilkan? Apakah pengungkapan perbedaan sebanding dengan hak-hak kewarganegaraan? Keadaannya telah menjadi serius; bahaya yang kita hadapi tidak boleh dipandang sebelah mata.

Sudah mendesak saatnya untuk mengingatkan diri kita sendiri bahwa apa yang memungkinkan kita hidup bersama dengan saling menghormati adalah kerangka hukum perundang-undangan umum yang membuat semua warga negara sama di mata hukum. Dalam kerangka ini, yang membentuk dasar dari kedaulatan hukum, dan yang harus diakui oleh semua warga negara dan penduduk tetap, kemerdekaan mendasar harus dihormati. Ini termasuk kebebasan berprinsip, beragama, berekspresi dan berkumpul. Dalam tahun-tahun terakhir kita telah menyaksikan pengikisan hak-hak dasar ini secara perlahan tapi pasti, yang dipertanyakan dengan cara yang begitu mengancam.

Perdebatan mengenai keragaman kebudayaan dan identitas telah menjadi jenuh dengan berbagai pertanyaan, ketakutan, ketidaknyamanan ini. Masalahnya bukanlah soal perundang-undangan, tetapi rasa takut dan pandangan kita sendiri, yang memecahkan kita, menempatkan kita dalam pihak yang saling bertentangan, dan mendorong sebagian orang untuk mencoba mengubah hukum. Apa yang sedang tersingkap di hadapan kita adalah "benturan pandangan"yang tajam. Jika kita tidak melakukan pencegahan, kita akan terancam untuk menyerahkan tidak hanya kepercayaan diri kita kepada diri sendiri dan kepada sesama saudara sebangsa kita, tetapi juga kemerdekaan kita, yang pertama-tama akan mempengaruhi umat Muslim, baru kemudian berdampak pada semua warga negara.

Sebagian kalangan percaya bahwa penyelesaian satu-satunya adalah penghancuran semua simbol keagamaan atau kebudayaan yang menunjukkan perbedaan. Ini akan, para pendukungnya berpendapat, memastikan kesetaraan dan mencegah terjadinya kemungkinan menyinggung perasaan orang lain. Peragaan keragaman, yang lain menantang, hanya akan mengurangi kemungkinan rasa takut. Tetapi proses globalisasi mengingatkan kita setiap hari bahwa tidaklah memadai dengan sekedar mengamati perbedaan untuk dapat membuat kita bisa memahami mereka dengan cara yang positif.

Namun, kita tidak akan mengatasi rasa takut terhadap keragaman dan perbedaan dengan menyembunyikan mereka atau terlalu memperlihatkan mereka. Perdebatan dapat menggantikan iklim keheningan dengan tiga prasyarat.

Pertama, kita harus menghormati hukum negara dan menerapkannya tanpa pandang bulu kepada semua warga negara, dan dengan penuh penghormatan terhadap setiap masyarakat agama dan budaya.

Kedua, daripada menyerukan penyingkiran semua tanda yang khas dari tempat umum, tanda-tanda ini seharusnya, sudah menjadi sesuatu yang mendesak, dibuat sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan. Masyarakat majemuk kita harus memberikan warganya perangkat untuk memahami agama, simbol-simbol mereka, dan praktik-praktik mereka. Untuk mengatasi rasa takut, kita harus menawarkan instruksi yang tepat bagi kaum muda kita; kita harus menumbuhkan pemahaman dan semangat kritis mereka. Ini berarti menuntut suatu pemahaman yang lebih baik tentang orientasi filosofis dan kebudayaan lain: melihat dunia lain sebagai sumber kekayaan, dan bukan sebagai sebuah ancaman.

Prasyarat ketiga berkaitan dengan akal sehat dan kesopanan. Kita harus terbiasa untuk memperdebatkan isu-isu sosial dengan cara yang menyeluruh dan kritis, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip kita, dan tanpa mengambil pusing kritik yang disampaikan tanpa berpikir panjang, menyakitkan, dan terkadang merupakan pancingan bertujuan buruk dan pengecut. Dengan alasan mempertahankan kebebasan berpikir, sebagian intelektual, jurnalis, dan politisi sesungguhnya telah mengesahkan pendukung kebencian rasis yang menggerogoti demokrasi kita, yang kemudian menghasilkan kebalikan dari apa yang menurut mereka justru sedang mereka perjuangkan.

Untuk memenuhi ekspresi keragaman yang bertanggung jawab dan masuk akal dalam masyarakat kita, kita harus menjelaskan, mendidik dan belajar mengenal satu sama lain, memahami dan menghormati tetangga-tetangga kita. Bagaiman kemerdekaan kita digunakan, tergantung pada diri masing-masing.

###

* Tariq Ramadan adalah seorang profesor Kajian Islam dan peneliti senior pada St Antony's College, Oxford University dan Lokahi Lokahi Foundation, London. Ia juga Presiden lembaga think-tank Eropa, European Muslim Network (EMN), di Brussels. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: www.tariqramadan.com, 2 Januari 2007.
Telah memperoleh izin hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Anda memperoleh izin saya [untuk menerbitkan artikel-artikel saya]. Selalu terkesan dengan layanan berita ini."

- John Esposito, Profesor Universitas dan Direktur Pendiri Pusat Pengertian Muslim-Kristen Pangeran Alwaleed Bin Talal pada Georgetown University
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Perbankan Islam Peluang atau Ancaman?
Kisah Cinta Iran dengan Amerika
"Sulitnya" Menjadi Muslim di Amerika
Mengapa Semua Orang Begitu Paranoid?
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Perbankan Islam Peluang atau Ancaman? oleh Rodney Wilson
Kisah Cinta Iran dengan Amerika oleh Ali G. Scotten
"Sulitnya" Menjadi Muslim di Amerika oleh Mona Eltahawy
Mengapa Semua Orang Begitu Paranoid? oleh Olivia Snaije