Mengapa Dunia Berubah Sesuai Harapan PBB

oleh Ban Ki-moon
09 Juni 2007
Cetak
Email
New York, New York – Pengalaman saya, setiap pagi, mungkin tidak berbeda dengan Anda. Mengambil koran atau menyalakan TV — di New York, Lagos, atau Jakarta — dan mencermati intisari penderitaan manusia sehari-hari. Lebanon. Darfur. Somalia. Tentu saja, sebagai sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saya setidaknya berada dalam kedudukan yang mencoba berbuat sesuatu terhadap berbagai tragedi ini. Dan saya lakukan itu, setiap hari.

Ketika menduduki jabatan ini, hampir lima bulan lalu, tanpa khayalan menyesatkan. Seorang pendahulu saya yang terkenal mengatakan bahwa pekerjaan tersebut adalah "pekerjaan paling berat di dunia".

Saya sendiri telah bercanda bahwa saya lebih merasa sebagai sekretaris daripada jenderal, karena biar bagaimanapun, sekretaris jenderal tidak lebih berkuasa seperti kesatuan Dewan Keamanannya. Di masa lalu, seperti dewasa ini, kesatuan tersebut sering tidak jelas. Namun demikian, saya tetap merasa seoptimis hari pertama saya menduduki jabatan ini.

Hal tersebut mungkin sulit untuk dipahami, mengingat dimensi dan kesulitan dari banyak permasalahan yang kita hadapi — tidak ada daerah yang lebih menunjukkan hal tersebut, mungkin, selain Timur Tengah.

Dengan meningkatnya permintaan di setiap bidang, dari pemeliharaan perdamaian, bantuan kemanusiaan, hingga kesehatan, PBB dewasa ini sering dituntut melakukan lebih banyak daripada sebelumnya, bahkan ketika sumber-sumber daya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ini proporsinya semakin jarang. Di sisi lain, pertimbangkan sebagian dari cara-cara dunia berubah, dalam tahun-tahun belakangan ini, bagi keuntungan PBB.

Karena banyak alasan lain selain Irak, dewasa ini ada sebuah pemahaman baru bagi multilateralisme dan diplomasi untuk mengatasi krisis. Permasalahan "kekuatan halus” (soft power) — lapangan permainan alami PBB — telah bangkit ke puncak agenda global. Setahun belakangan ini, untuk menyebut satu contoh saja, sebuah konsensus tentang perubahan iklim dan bahaya pemanasan global telah muncul. Para pemimpin mulai dari Bill Gates, Tony Blair, hingga Bono berkomitmen untuk membantu PBB mencapai Millennium Development Goals (MDGs)-nya, dari mengurangi kemiskinan hingga menghentikan penyebaran HIV/AIDS dan malaria.

Mungkin yang paling memberikan semangat, dukungan masyarakat bagi PBB tetap sangat tinggi. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan WorldPublicOpinion.org menemukan bahwa sebagian besar masyrakat (74 %) percaya PBB seharusnya memainkan peran lebih kuat di dunia, entah dalam pencegahan genosida dan pembelaan bangsa yang diserang, atau menyelidiki pelanggaran-pelanggaran hak-hak asasi manusia dengan agresif. Bahkan di Amerika Serikat, tempat kekecewaan terhadap PBB belakangan ini berakar dalam, tiga dari empat orang Amerika menginginkan PBB lebih kuat, dan jumlah yang hampir sama banyaknya mengharapkan kebijakan luar negeri bangsa tersebut dilaksanakan dalam kemitraan dengan PBB.

Bagi PBB, semua ini juga memuncak pada sebuah perubahan iklim. Saya tidak akan menyebutnya sebagai sebuah momen San Francisco baru — tetapi ia mungkin tidak terlalu jauh berbeda, selama kita merebut peluang tersebut.

Kami bangsa Korea merupakan orang-orang yang penuh semangat. Secara alami, kami penyabar tetapi gigih, bertekad kuat untuk menyelesaikan apa yang telah kami tetapkan. Seperti kebanyakan saudara sebangsa saya, saya percaya pada kekuatan hubungan.

Selama bertahun-tahun saya membawa secarik kertas lusuh bertuliskan huruf Cina (bersama dengan daftar statistik perdagangan dan ekonomi) di dalam dompet saya, yang masing-masing berhubungan dengan umur seseorang dan tahapan dalam kehidupan. Pada usia 30, Anda berada pada puncak kehidupan. Pada usia 50, Anda dikatakan mengetahui takdir Anda. Pada usia 60, Anda memiliki kebijakan dari "soft ear".

Yang terakhir ini adalah tahapan saya. Ia melibatkan lebih dari sekedar mendengarkan, walaupun hal itu tetap penting. Mungkin cara terbaik menggambarkan hal tersebut adalah ketajaman — dengan melihat seseorang atau keadaan secara keseluruhan, keburukan dengan kebaikan, dan kemampuan untuk membentuk hubungan dan sebuah hubungan kerja yang efektif terlepas dari perbedaan pendapat, betapapun tajamnya.

Saya percaya, ini akan menjadi ciri utama masa jabatan saya sebagai sekretaris jenderal. Saya percaya pada keterlibatan, dialog dan bukan konfrontasi. Terkadang diplomasi ini menjadi terbuka; di saat lain ia akan terjadi di belakang layar, karena hal itu merupakan tempat potensi keberhasilan paling mungkin terjadi.

Saya menekankan kata potensial di sana. Keberhasilan jarang direncanakan sebelumnya. Yang penting adalah mencoba, seperti yang terus saya lakukan di Darfur — di antara berbagai prioritas utama saya lainnya. Saya telah menekankan dengan sangat keras, Washington dan mitra-mitra lain, untuk meluangkan waktu lebih banyak dalam perundingan dengan Presiden Sudan Omar Bashir agar menggunakan kekuatan pemelihara perdamaian internasional di bawah pengawasan Uni Afrika.

Sejauh ini, hal tersebut hanya menghasilkan sebagian kemenangan — persetujuan pemerintah Khartoum untuk menerima 3.500 personel PBB, jauh lebih sedikit dari angka 20.000 yang diperlukan. Saya tetap yakin bahwa diplomasi yang gigih dapat memberi hasil yang lebih memuaskan. Namun, di samping orang-orang tak berdosa terus jatuh sebagai korban, yang juga tampak jelas adalah waktu yang sangat terbatas.

Dengan semangat yang sama, saya telah mengunjungi Timur Tengah empat kali dalam empat bulan, termasuk beberapa pertemuan dan pembicaraan telepon dengan Presiden Suriah Bashar Assad, belum lama ini di Damaskus. Di sini, saya juga ingin membangun sebuah hubungan — yang mungkin dapat membantu menengahi berbagai kejadian di Lebanon dan, akhirnya, mengembalikan Suriah lebih utuh ke dalam masyarakat internasional.

Diplomasi secara diam-diam tidak selalu berhasil, seperti saya bilang. Tetapi ia dapat, bahkan dalam keadaan yang paling penuh ketegangan, seperti yang kita saksikan belum lama ini dalam penyelesaian belakang layar masalah penyanderaan antara Inggris dan Iran.

Minggu depan, negara-negara industri G-8 akan bertemu di Jerman untuk membahas, antara lain, perubahan iklim — sebuah cita-cita yang saya ingin rangkul sepenuhnya. Terlalu sering kita membicarakan pemanasan global hanya sebagai urusan teknis.

Kita berbicara tentang perdagangan karbon, batasan emisi global, berbagai teknologi baru dari mobil yang lebih hemat bahan bakar ke tenaga matahari. Tidak perlu dikatakan lagi, semuanya penting.

Namun aspek perubahan iklim yang saya ingin tekankan lebih terkait dengan manusia. Ia melibatkan fenomena ketidaksetaraan yang melekat. Walaupun pemanasan global mempengaruhi kita semua, namun caranya berbeda-beda. Negara-negara kaya memiliki sumber-sumber daya dan pengetahuan untuk menyesuaikan diri.

Pedesaan ski Swiss suatu saat mungkin kehilangan salju mereka— atau seperti apa yang dikatakan oleh rekan kerja saya, yang belum lama ini kembali dari liburan di Alpen —lembah-lembahnya bisa jadi berubah menjadi sebuah "Tuscany baru", penuh dengan perkebunan anggur yang bermandikan matahari. Perubahan yang dirasakan Afrika, yang telah menderita perluasan padang pasir, atau penduduk kepulauan Indonesia, yang ketakutan mereka akan tenggelam diterjang ombak, jauh lebih membahayakan.

Jika ada sebuah tema yang menyatukan pekerjaan saya, Anda boleh sebut sebuah visi, dimensi kemanusiaan inilah — harga paling tinggi dari keterlibatan dan hubungan diplomatik yang dapat dipercaya tetapi jernih, yang dipadukan dengan kewaspadaan dari bagaimana kebijakan-kebijakan global — kebijakan kami — mempengaruhi kehidupan pribadi dan sehari-hari.

Kita mungkin membaca, setiap pagi, tentang tragedi kemanusiaan di surat kabar. Tetapi berapa sering kita benar-benar menengarkan suara-suara rakyat, atau mencoba sekuat tenaga dan bertekad bulat membantu? Inilah janji yang akan saya lakukan.

###

* Ban Ki-Moon adalah sekretaris-jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Jordan Times, 31 Mei 2007, www.jordantimes.com
Telah memperoleh hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Memang cukup mengagumkan, jika Anda tanyakan saya... untuk membuat [saluran-saluran media] menerbitkan sebuah artikel Common Ground, apalagi menyerukan sebuah pembaruan atas upaya - upaya untuk menafsirkan kembali ayat-ayat suci Islam melalui sebuah ijtihad baru. Semua orang ingin tahu bagaimana cara menjangkaunya. CGNews melakukannya."

- Shamil Idriss, Direktur Sekretariat Persekutuan Peradaban PBB (UN Alliance of Civilizations)
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Perihal Politik, Mengapa Muslim Lari ke Agama?
~Pandangan Kaum Muda~ Islam di Eropa Modern: Kebangkitan Kembali atau Keterasingan?
Iran Membuka Peluang Mengenai Lebanon
Nasionalisme dan Boga: Wawancara dengan Zafer Yenal
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Perihal Politik, Mengapa Muslim Lari ke Agama? oleh Dalia Mogahed
~Pandangan Kaum Muda~ Islam di Eropa Modern: Kebangkitan Kembali atau Keterasingan? oleh Talajeh Livani
Iran Membuka Peluang Mengenai Lebanon oleh Michael Young
Nasionalisme dan Boga: Wawancara dengan Zafer Yenal oleh Fatma Sagir