~Pandangan Kaum Muda~ Berkonsultasi dengan Kaum Muda Kita: Sebuah Contoh Maroko

oleh Leila Hanafi
29 Juni 2007
Cetak
Email
Washington, DC – Menurut 2007 World Bank Annual Development Report, sekitar 50% penduduk dari gabungan negara-negara berkembang dan belum maju berusia di bawah 25 tahun. Hal ini menunjukan perlunya perbaikan hak-hak kaum muda dan peran mereka untuk mencapai hampir semua Millennium Development Goals (MDGs) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2000 untuk memberantas kemiskinan dan mendorong pembangunan berkelanjutan.

Lebih dari setengah penduduk dunia Arab berusia di bawah 25. Kelompok orang muda seperti itu, sekarang memiliki pendidikan lebih tinggi daripada generasi sebelumnya dan lebih menyadari konteks globalnya, dihadapkan dengan seperangkat kesempatan dan hambatan yang unik. Para pemuda di wialyah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) sedang berada di persimpangan, sambil menyaksikan perubahan-perubahan besar di negara mereka. Generasi kaum muda laki-laki dan perempuan Arab dewasa ini menghadapi tantangan sangat besar untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan berperan serta dalam proses pembuatan keputusan secara demokratis. Namun mereka jarang diajak berkonsultasi selama perumusan strategi-strategi pembangunan dan tidak juga diakui sebagai sebuah kelompok besar yang merasakan kemiskinan.

Perbaikan status kaum muda sangat penting artinya tidak hanya bagi diri mereka sendiri. Kesejahteraan masyarakat semakin bergantung pada kualitas sumber daya manusia sebuah negara, dan kaum muda tetap merupakan sumber daya yang sebagian besar belum tersadap. Karena itu, permasalahan kaum muda perlu dianggap sebagai bagian utama dalam perancangan dan pelaksanaan kebijakan. Khususnya, pemerintah perlu memusatkan upaya-upaya mereka untuk memajukan peran serta kaum muda dengan pemahaman yang tegas bahwa berbagai permasalahan ini merupakan elemen-elemen prinsip dari proses pembangunan.

Sebagai salah seorang pemenang World Bank's MENA Youth Innovation Fund, saya belum lama ini berkunjung ke Maroko untuk melaksanakan proyek saya, Youth Employment Initiative: Reaching Marginalised Youth di daerah-daerah urban Rabat-Salé. Proyek tersebut mengatasi masalah pengangguran kaum muda di daerah-daerah perkotaan dengan mengajukan mekanisme inovatif untuk memperbaiki peluang pengkaryaan dari kaum muda yang termarjinalisasi, khususnya para perempuan lulusan universitas, dan memfasilitasi peralihan mereka memasuki pasar tenaga kerja.

Di Maroko, walaupun kaum muda mewakili mayoritas penduduk, mereka masih mengalami status sosial dan ekonomi yang rendah akibat kurangnya pelatihan dan pendidikan sekolah. Akibatnya, peran serta penuh kaum muda dalam proses pembangunan menjadi terhambat, merenggut Maroko dari potensi yang dimiliki komponen kunci dalam masyarakat ini.

Pada tanggal 2 Februari 2007, kami secara resmi meluncurkan proyek tersebut di Rabat dengan mitra LSM kami, Ribat Alfath, sebuah organisasi pembangunan terkemuka di negara tersebut. Proyek tersebut mengikutsertakan para pembuat kebijakan dan keputusan, perwakilan organisasi-organisasi kaum muda, dan masyarakat bisnis. Acara tersebut diliput oleh berbagai saluran media yang menekankan bahwa prakarsa yang dimotori para pemuda tersebut menampilkan sebuah kerangka bagi peluncuran tindakan yang mendukung pengkaryaan kaum muda, menegaskan kenyataan bahwa orang muda merupakan agen kunci bagi perubahan, dan berperan sebagai kerangka pendukung dan medium bagi tindakan kaum muda. Proyek tersebut merupakan sebuah prakarsa awal yang akan didaur di masyarakat-masyarakat lain di Maroko dalam bulan-bulan mendatang.

Seluruh peserta muda tersebut merupakan para perempuan lulusan universitas dari lingkungan-lingkungan yang termarjinalisasi seperti yang telah diidentifikasi oleh Prakarsa Nasional Maroko bagi Pembangunan Manusia. Para peserta terlibat dalam semua perancangan lokakarya pelatihan dalam kapasitas konsultatif. Keikutsertaan dan keterlibatan para peserta merupakan kunci pelaksanaan prakarsa ini. Hal tersebut merupakan pendekatan yang memberdayakan yang memungkinkan para perempuan muda mempengaruhi dan memperoleh kendali atas peluang-peluang pengkaryaan mereka sendiri melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan. Walau banyak program pelatihan kaum muda yang mengambil pendekatan yang didorong persediaan, prakarsa ini didasarkan pada "dorongan permintaan" yang berangkat dari perspektif dan keyakinan para perempuan muda tersebut bahwa dengan membantu mereka mengenali kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri, dan kemudian mendukung mereka dengan memberikan layanan orientasi dan bimbingan. Hal ini memungkinkan para peserta menyuarakan pendapat dan perspektif mereka tentang permasalahan mendesak yang dihadapi kaum muda untuk mencari pekerjaan di Maroko.

Orang muda telah terlontar ke dalam agenda pembangunan internasional dengan dorongan mutlak hanya dalam waktu beberapa tahun saja. Namun kehidupan, perjuangan, dan keinginan mereka masih begitu sedikit yang dipahami. Salah satu sasaran dari prakarsa kami adalah menempatkan perspektif kaum muda tentang pembangunan ekonomi dan sosial di Maroko. Para peserta membahas tantangan-tantangan yang sedang dihadapi kaum muda Maroko melalui kelas-kelas bahasa Perancis dan Komunikasi mereka untuk menentukan berbagai penyelesaian dan berperan serta dalam sebuah proses prioritisasi yang diilhami oleh model Konsensus Kopenhagen.

Tidak seperti proses-proses prioritisasi di masa lalu, model Konsensus Kopenhagen bukan merupakan sebuah pelaksanaan yang bersifat hipotesis tetapi lebih merupakan sebuah model yang nyata untuk menghadapi tantangan masyarakat dengan berbagai solusi inovatif. Pada bulan Juli 2007, para peserta akan menampilkan presentasi dalam sebuah forum kaum muda yang menampilkan para perwakilan badan pemerintah, masyarakat bisnis, universitas, media, dan organisasi-organisasi kaum muda setempat yang terkait. Mereka akan menyuarakan pendapat mereka tentang permasalahan mendesak yang dihadapi kaum muda, mengajukan berbagai usulan kepada pemerintah dan menyarankan cara-cara inovatif untuk memberantas kemiskinan dari sudut pandang kaum muda.

Dewasa ini, orang muda merupakan sumber pengetahuan dan pembaharuan, dan ketika dimanfaatkan secara mangkus, akan memberikan sumber daya unggul yang dapat memberikan sumbangan berarti bagi agenda kaum muda dan berbagai permasalahan pembangunan lainnya. Saya percaya bahwa dengan semakin meningkatnya kepedulian di Maroko terhadap tingkat peran serta kaum muda dalam proses pembangunan, proyek kami akan sangat membantu menghasilkan terobosan besar menyangkut kemampuan kaum muda memberikan sumbangan bagi kemajuan dan pembangunan di Maroko. Sementara generasi saya mengalami tingkat interaksi dan ketergantungan yang tidak pernah terjadi sebelumnya di penjuru dunia, saya hanya dapat berharap bahwa di tahun-tahun mendatang kami akan tetap memiliki idealisme muda untuk mengambil risiko, memandang jauh melampaui berbagai hambatan, dan mengembangkan berbagai penyelesaian inovatif untuk menciptakan perubahan positif di dunia.

###

* Berasal dari Rabat, Leila Hanafi merupakan lulusan terhormat baru dari American University School of International Service dan saat ini sedang menempuh pendidikannya dalam ilmu hukum internasional di Georgetown University, Washington DC. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 26 Juni 2007, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Anda memperoleh izin saya [untuk menerbitkan artikel-artikel saya]. Selalu terkesan dengan layanan berita ini."

- John Esposito, Profesor Universitas dan Direktur Pendiri Pusat Pengertian Muslim-Kristen Pangeran Alwaleed Bin Talal pada Georgetown University
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Alternatif Ketiga di Irak
Penyelesaian Relijius bagi Permasalahan Politis?
Strategi Baru Militer AS di Irak: Mendamaikan Agama
Gereja Tambah Negara Bisa Sama Dengan Demokrasi
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Alternatif Ketiga di Irak oleh William Ury
Penyelesaian Relijius bagi Permasalahan Politis? oleh Claude Salhani
Strategi Baru Militer AS di Irak: Mendamaikan Agama oleh Gordon Lubold
Gereja Tambah Negara Bisa Sama Dengan Demokrasi oleh Mirjam Kunkler dan Michael Meyer-Resende