Batas-Batas Multikulturalisme: Umat Muslim di Jerman

oleh Mark Terkesidis
17 Agustus 2007
Cetak
Email
COLOGNE, Jerman Proyek-proyek kaum muda imigran di Berlin pada tahun 90-an tak ada masalah memiliki nama seperti "Disko dan Doner." Terkadang, sebuah upaya dibuat untuk menggarisbawahi perbedaan-perbedaan kebudayaan, namun dengan cara yang menyenangkan terutama bagi para warga setempat. Muncullah, doner kebab.

Multikulturalisme pada zaman itu dapat dituding, dan ada benarnya, memusatkan perhatiannya dengan diam-diam pada warung-warung makan dan restoran.

Dewasa ini, selera masyarakat telah jelas berubah. Multikulturalisme telah menjadi kambing hitam. Orang sering mendengar suara-suara, dan tidak hanya berasal dari wilayah-wilayah yang konservatif, bahwa para pendukungnya naif, dan memang berbahaya. Ini karena model multibudaya telah menekankan arti pentingnya "masyarakat-masyarakat paralel."

"Integrasi" sekali lagi merupakan resep mujarab. Apa yang sesungguhnya dimaksud oleh kata ini sebagian besar tetap tidak jelas. Jika seseorang memperhatikan dengan teliti perdebatan yang berputar-putar di sekitar isu integrasi, kelihatannya sangat serupa dengan konsep Multikulturalisme yang juga menyalahkah pihak lain.

Kenyataannya, sekarang ini ada sebuah Multikulturalisme baru yang tidak banyak berhubungan dengan kenikmatan-kenikmatan kuliner dan jauh lebih berhubungan dengan urusan-urusan spiritual agama, atau lebih tepatnya, masjid.

Bukannya tanpa alasan bahwa letak masjid baru yang didirikan di tengah kota Cologne akhirnya memiliki arti penting secara politik nasional. Ketika pembahasan beralih mengenai Jerman sebagai negara yang terbuka terhadap imigrasi, maka hampir tidak ada isu lain yang memperoleh perhatian lebih besar daripada Islam.

Takdir "perempuan Muslim"merupakan tema yang telah lama diusung. Hubungan Islam dengan terorisme adalah masalah yang mengundang perdebatan tak berkesudahan. Dan "Pertemuan Puncak Islam" secara khusus dijadwalkan dengan tujuan untuk menentukan peran masa depan Muslim dalam masyarakat.

Terlepas dari segala perlawanan yang ada, keterlibatan Muslim telah ditetapkan. Mereka akan menjadi seperti seorang mitra yunior dari agama-agama Kristen tidak berdiri sama tinggi, tetapi setidaknya secara simbolis terlihat jelas dalam bidang arsitektur.

Dengan demikian, Islam adalah agama yang terus diuji. Ketika gereja-gereja Kristen dilihat sebagai sesuatu modern dan merupakan bagian dari masyarakat sekuler Jerman, di sisi lain masih ada hambatan-hambatan sejarah yang terkait dengan Islam.

"Selama 1400 tahun, Islam telah lalai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan menjauhkan dirinya dari politik," demikian keyakinan "kritikus Islam"Necla Kelek. Umat Muslim karena itu diserukan untuk menyaksikan karya-karya teater yang menyeranah Tuhan atau bahkan untuk menyelenggaraan pembacaan Ayat-ayat Setan Salman Rushdie di masjid di Cologne.

Jelas bahwa standar ganda sedang diterapkan di sini karena tidak seorang pun menuntut jemaat Katolik seharusnya mengundang kritikus Gereja Karl-Heinz Deschner untuk berbicara.

Ketika nasi telah jadi bubur, pertanyaan yang tersisa adalah siapa yang sesungguhnya dimaksud dengan istilah "Muslim"? Orang sering mendengar dari media dewasa ini bahwa ada "sekitar dua atau tiga juta" Muslim yang tinggal di Jerman. Kenyataannya, tidak sampai 20% dari "Muslim"yang benar-benar taat.

Sebagian lagi, bahkan walaupun mereka merupakan ateis sejati, tetap dinyatakan sebagai Muslim. Kesimpulan terbalik juga dilakukan ketika menyatakan bahwa lebih dari 80 juta penduduk adalah umat Kristen yang hidup di sebuah negara Kristen.

Hal lain yang dikecam dari Multikulturalisme tahun 1980-an adalah bahwa semua penduduk negara tersebut dinyatakan sebagai perwakilan dari budayanya, walaupun kita hidup dalam masyarakat yang sedang berada dalam keadaan de-tradisionalisasi yang parah.

Sementara itu, kita semua telah menjadi perwakilan dari agama "kita". Namun, ini sama saja dengan menjauhkan diri dari kenyataan. Tidak penting berapa banyak acara besar yang berhasil diadakan, seperti Hari Gereja Ekumenikal, gereja-gereja Kristen terus kehilangan arti pentingnya.

Sementara kita dengan tekun memperdebatkan urusan "Muslim," serangkaian permasalahan struktural sama sekali tersembunyi dari panndagan dan situasi hukum dan ekonomi imigran sama sekali tidak diperhatikan.

Misalnya, dalam beberapa tahun belakangan penyederhanaan upaya memperoleh kewarganegaraan Jerman telah dibebani dengan begitu banyak larangan yang meluas sehingga semakin lama semakin sedikit orang yang layak atau bahkan menginginkannya. Hanya ada upaya setengah hati yang mencoba memberantas diskriminasi dalam bidang pendidikan.

Dan mengingat tingkat pengangguran yang mengerikan di kalangan imigran, "Rencana Integrasi Nasional"hanya menawarkan sebuah orgi pernyataan niat baik. Pembahasan di sini adalah tentang "dorongan" bagi "komitmen lebih intensif" atau tentang "pengembangan konsep." Sedikit hal yang berarti dapat ditemukan orang terwujud dalam proposal yang nyata.

Sebagai tambahan, kesulitan-kesulitan khas dari kelompok-kelompok imigran lain diabaikan sama sekali, seperti sangat tingginya murid keturunan Serbia yang mengikuti kelas-kelas persamaan, kekacauan pendidikan yang dialami mereka yang berasal dari Italia, dan tingkat pengangguran yang jauh dari proporsional di kalangan para imigran Yunani, walaupun tingkat pendidikan mereka yang tinggi.

Akhirnya, penekanan terhadap atribut-atribut relijius hanya membantu mendorong skenario "benturan budaya" yang permanen. Dan kemudian sangat tidak mengherankan jika penekanan seperti itu juga mempengaruhi pandangan-pandangan kalangan minoritas tentang diri mereka sendiri.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa penduduk yang berasal dari Turki semakin mencirikan diri mereka sendiri sebagai relijius, walaupun cerminan diri ini tidak sesuai dengan perilaku mereka yang sesungguhnya kebanyakan masih tidak pernah datang ke masjid.

Melihat pengalaman-pengalaman di negara-negara lain, seperti Inggris, kesimpulan nyata dapat ditarik tidak dianjurkan untuk mengejar pembauran yang menekankan pada perbedaan-perbedaan agama, meneruskan diskriminasi, dan pengasingan ekonomi. Kecuali orang benar-benar menginginkan "benturan budaya."

###

* Mark Terkesidis memiliki gelar doktor dalam bidang psikologi dan bekerja sebagai wartawan dan penulis yang memusatkan perhatiannya pada topik-topik yang menyangkut budaya pop, migrasi, dan rasisme. Artikel ini disebarluaskan oleh Layanan Berita Comon Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.comongroundnews.org.

Sumber: Qantara.de, 3 Agustus 2007, www.qantara.de
Telah memperoleh hak cipta.

Diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh John Bergeron
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Saya menerima enam pertanyaan dari beberapa orang yang bekerja bagi Layanan Berita Common Ground. Saya berharap agar para mahasiswa dan ahli di universitas kami (Al Azhar), sekaligus mereka yang peduli dengan berbagai hal intelektual secara umum, akan mencatat upaya di balik pertanyaan-pertanyaan ini, bagaimana mereka diterbitkan hanya setelah pengumpulan informasi secara ekstensif dan kajian yang dapat mengisi kekosongan, dan setelah pemikiran yang terorganisasi yang menarik hubungan - hubungan antara berbagai kenyataan dan yang tidak menyibukkan diri dengan ilusi, membuang waktu, dan kepicikan yang meruntuhkan bangunan pengetahuan."

- Sheikh Ali Gomaa, Imam Agung Mesir
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Agama Beraksi: Kajian atas Tindakan-Tindakan Agama Eboo Patel
~Pandangan Kaum Muda~ Menghadapi Agama
Berbagai Tindakan Kekerasan yang Sah dan Tidak Sah
Pesan Amman
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Agama Beraksi: Kajian atas Tindakan-Tindakan Agama Eboo Patel oleh Matthew Weiner
~Pandangan Kaum Muda~ Menghadapi Agama oleh Samantha Kirby
Berbagai Tindakan Kekerasan yang Sah dan Tidak Sah oleh John Esposito
Pesan Amman oleh Pangeran Ghazi Bin Muhamad