~Pandangan Kaum Muda~ Memakai atau Tidak Memakai Jilbab

oleh Hafsa Kanjwal dan Khadijeh Zarafshar
01 Februari 2008
Cetak
Email
Washington, DC – Kami adalah perempuan Muslim Amerika, yang sangat terikat dengan agama kami. Kami adalah mahasiswa-mahasiswa tahun terakhir Georgetown University yang tetap aktif dan terlibat dengan masyarakat Muslim Amerika. Salah seorang dari kami mengenakan penutup kepala, dikenal dalam bahasa Arab sebagai hijab (jilbab). Yang lainnya tidak. Namun hak memakai jilbab tanpa dipaksa, dikecam, atau disertai rasa iba yang merendahkan adalah sebuah hak yang kami berdua bela.

Anggapan bahwa perempuan Muslim yang memiliki keeksotikan seksual tetapi dengan tragis tertekan telah hidup dalam kesadaran bangsa Barat sejak mereka pertama kali berhubungan dengan dunia Muslim. Dalam sebuah artikel yang muncul dalam Islamica Magazine, Mohja Kahf, seorang profesor dari University of Arkansas menghubungkan karakter yang sudah usang tersebut hingga ke zaman kesusastraan Romantis, dan alur cerita ala Byron tentang seorang laki-laki kulit putih yang menyelamatkan seorang gadis harem, [yang] terus hidup pada zaman keemasan kolonialisme Eropa, yang terus mengumpani kompleks supremasi pahlawan Kristen kulit putih.

Pada zaman modern, cadar telah menjadi sebuah simbol yang sangat emosional dari perjuangan antara tradisi dan modernitas, antara Islam dan Barat. Ia boleh dibilang telah berperan sebagai sebagian dari justifikasi politis bagi kebijakan-kebijakan tertentu dari Amerika Serikat untuk membebaskan perempuan Muslim di Afghanistan atau Irak. Kami, sebagai perempuan Muslim Amerika, yang terbiasa hidup dengan identitas ganda kami, menuntut sebuah evaluasi ulang dari pemaksaan dikotomi eksternal ini. Sebagai bangsa Amerika, bukan tempat kita untuk bicara atas nama perempuan dari bangsa lain. Apa yang dapat kita lakukan adalah membagi pengalaman dan pandangan tentang apa makna jilbab bagi kami, di sini, di Amerika Serikat.

Perempuan Muslim bukanlah entitas yang monolitis. Orang mungkin berpikir bahwa kalimat ini menyatakan sesuatu yang sudah tak perlu diperdebatkan lagi, namun kami sering menemui rekan-rekan dan juga para profesor yang gagal memahami bahwa konsep abstrak dan luas yang mereka temui di dunia akademis tidak memiliki wujud yang tetap dalam pengejawantahannya dalam kehidupan orang-orang nyata. Hal tersebut merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari, namun alasan dan motivasi di balik pemakaian kerudung, serta bentuknya, tidaklah seragam. Banyak orang beranggapan bahwa seorang perempuan yang tertutup adalah seorang perempuan yang tertekan, dipaksa oleh sebuah tokoh laki-laki berkuasa untuk berpakaian dengan cara tertentu. Pada kenyataannya, cerminan ketidaktahuan yang penuh prasangka terhadap keyakinan kami inilah yang menghambat, menghina, dan dalam sebuah lagak kepedulian yang diputarbalikkan dan penuh kemunafikan, justru merendahkan otonomi dan kecerdasan kami.

Penting untuk dijernihkan di sini bahwa pemakaian jilbab bukanlah sebuah pilar Islam. Hal tersebut terkait langsung dengan anggapan tentang kesederhanaan, yang merupakan nilai mendasar agar Muslim, laki-laki maupun perempuan, merangkul dan menjadikannya sebagai bagian dari nilai mereka. Kami mengatakan ini tanpa bermaksud mengurangi nilainya, tetapi sekedar menunjukkan bahwa keluasan ajaran dan praktik Islam terentang jauh melampaui sehelai kain. Namun merupakan harapan kami untuk membahas jilbab secara khusus, karena ia begitu disalahpahami oleh banyak orang dan merupakan representasi dari kesalahpahaman umum akan Islam.

Jika Anda menanyakan pada seorang perempuan Muslim, mengapa mereka memakai atau tidak memakai jilbab, Anda tidak akan mendapatkan jawaban yang sederhana. Mungkin alasan paling umum yang disampaikan perempuan yang mengenakan penutup kepala adalah sebagai salah satu keyakinan tulus yang diyakini mereka sebagai kewajiban menurut ajaran Islam, dan merujuk kepada ayat Al Qur'an yang memerintahkan perempuan beriman agar “tak menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya; Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” (Al Qur'an, 24:31).

Sebagian perempuan mengenakan kerudung karena mereka ingin secara terbuka menampilkan jati diri kemuslimahan mereka. Perempuan lain mungkin mengenakan jilbab sebagai perlindungan, karena menurut pemahamannya, ia tidak harus memperlihatkan tubuhnya kepada laki-laki bukan muhrimnya. Bagi yang lain, jilbab berperan sebagai sebuah peringatan pribadi terus-menerus agar tetap istiqamah terhadap nilai-nilai yang diajarkan Islam.

Tampil begitu kentara dalam sebuah masyarakat yang memberikan penekanan besar terhadap daya tarik fisik bukanlah hal yang mudah, dan seringkali menyesakan. Perempuan yang dengan tegas memutuskan untuk menutup rambut mereka, yang secara langsung berlawanan dengan nilai-nilai dan patokan-patokan masyarakat arus utama tempat kami menjadi bagiannya, membutuhkan keyakinan, keteguhan hati, dan suatu pemahaman yang dalam dan pribadi tentang kesignifikanan jilbab.

Bagi mereka yang memilih untuk tidak mengenakan jilbab, alasannya juga beragam. Sebagian perempuan Muslim menafsirkan ayat Al-Qur'an di atas dengan cara berbeda; mereka yakin bahwa walaupun prinsip-prinsip kesederhanaan disebutkan dan dipuji dalam Al Qu'ran, mengenakan kerudung lebih merupakan sebuah tafsiran atau pengembangan budaya daripada sebuah keharusan. Yang lain mungkin merasa walaupun hal tersebut penting, namun tidak mencerminkan tingkat spiritualitas atau ibadah mereka secara pribadi.

Ada sebuah pandangan yang cukup banyak diyakini orang bahwa perempuan yang mengenakan kerudung harus taat pada suatu patokan perilaku tertentu; pandangan ini seringkali membuat perempuan mengurungkan niat mereka menutupi rambut mereka. Yang lain yakin bahwa nilai-nilai yang dianjurkan kerudung dapat diwujudkan dalam cara-cara lain. Walaupun mengenakan kerudung mungkin penting di masa lalu, dewasa ini, terutama di Amerika Serikat seorang perempuan berkerudung akan lebih banyak menarik perhatian, bukannya lebih berkurang, yang berlawanan dengan fungsi kerudung yang membuat perempuan menjadi bagian dalam masyarakat tanpa dinilai dari penampilannya.

Pada akhirnya, mengapa seorang perempuan mengenakan kerudung adalah keputusan pribadinya. Penting artinya bagi mereka yang melihat kerudung sebagai tradisi luar untuk memelihara pikiran yang cukup terbuka dan membiarkan alasan-alasan dan dorongan hati yang tulus dari perempuan Muslim mengenakannya. Melakukan apapun yang kurang dari itu sungguh tidak adil rasanya.

###

* Hafsa Kanjwal dan Khadijeh Zarafshar merupakan mahasiswa tingkat akhir di Georgetown University, Washington, DC. Artikel ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 29 Januari 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Artikel-artikel Layanan Berita Common Ground - Timur Tengah memberikan harapan bahwa ada orang-orang di luar sana yang bekerja demi peyelesaian - penyelesaian yang diilhami kebutuhan untuk hidup berdampingan dalam toleransi dan dengan harapan bagi sebuah masa depan yang lebih baik."

- Christopher Patten, Mantan Komisaris Hubungan Eksternal, Komisi Eropa
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Islam dan Kebebasan Individu
Jalur Politik Islam Sentris
Dipahami adalah Hak Asasi
Memelihara Sejarah Pakistan untuk Mengamankan Masa Depannya
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Islam dan Kebebasan Individu oleh Sheikh Ibrahim Ramadan
Jalur Politik Islam Sentris oleh Khalil Al-Anani
Dipahami adalah Hak Asasi oleh Jamal Al-Tahat
Memelihara Sejarah Pakistan untuk Mengamankan Masa Depannya oleh Simon Jenkins