Jalan Buntu Pakistan-Israel

oleh Rehan Rafay Jamil
04 April 2008
Cetak
Email
Karachi, Pakistan – Tampaknya tak ada hari di Pakistan tanpa berita utama konflik Israel-Palestina. Seluruh generasi tumbuh sambil melihat wilayah itu di layar televisi sebagai sinonim dengan konflik yang berkepanjangan. Dari pelajar Yeshiva yang ditembaki di Yerusalem hingga penduduk Gaza yang terkepung dihukum blokade ekonomi, penderitaan manusia yang luar biasa tak pernah berhenti menghantam.

Saya tinggal ratusan mil dari Yerusalem, di Karachi. Tapi seperti banyak orang di Pakistan, saya peduli tentang apa yang terjadi di belahan dunia itu. Saya peduli, bukan karena itu adalah “konflik religius” seperti banyak orang di sini ingin percayai, tapi karena itu adalah konflik kemanusiaan, yang akibatnya meluas keluar dari perbatasan Israel-Palestina dan memiliki pengaruh yang nyata pada ko-eksistensi Yahudi-Muslim di tempat lain.

Saya tidak mengklaim menjadi pengamat tak memihak dalam konflik ini. Palestina adalah sesuatu yang saya dengar sejak kecil hingga dewasa. Ayah saya dan saudara-saudaranya adalah golongan kiri yang bagi mereka Palestina mewakili dunia ketiga yang berjuang demi kebebasan. Paman saya pergi ke Yordania pada 1970-an untuk mendapatkan pelatihan Front Populer untuk Pembebasan Palestina.

Sebaliknya, saya belajar di perguruan tinggi seni liberal di AS, di mana saya menjalin persahabatan dengan pelajar Yahudi dan mereka yang menyebut diri Zionis. Pada peringatan Shabbat-lah saya benar-benar memahami betapa dekatnya agama Ibrahim Yahudi dan Islam.

Pakistan tidak terlibat langsung dalam konflik Arab-Israel, demikian juga Israel dan Pakistan tidak punya alasan langsung untuk berselisih. Malah, pendudukan Palestinalah yang merintangi hubungan antar kedua negara. Di masa lalu, banyak kepala negara Israel telah berkunjung untuk membuat persetujuan formal dan bukan rahasia bahwa kedua negara memiliki hubungan informal yang telah berakar selama beberapa dekade.

Pada 2003, Presiden Musharraf berkunjung untuk perdebatan publik berkenaan dengan pengakuan Israel. Tapi opini publik di Pakistan menentang rekonsiliasi kecuali ada upaya konkrit terhadap pendirian negara Palestina. Dua tahun kemudian, dalam sebuah gerakan yang membuat banyak orang bertanya-tanya, Menteri Luar Negeri Pakistan Khurshid Kasuri bertemu dengan mitra Israelnya, Silvan Shalom, menandai kali pertama pejabat Pakistan dan Israel melakukannya di depan publik. Pertemuan ini diikuti oleh protes di Gaza dan di Pakistan. Sejak itu, Presiden Musharraf telah kembali kepada pendirian tradisional Pakistan bahwa tidak akan ada pengakuan Israel sampai dibentuknya negara Palestina.

Pada Maret 2002, Raja Abdullah dari Arab Saudi mengusulkan apa yang disebut Inisiatif Perdamaian Arab di Beirut. Usulan tersebut menyerukan pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967, dengan balasan Israel diakui secara penuh oleh negara-negara Arab. Inisiatif tersebut, yang disahkan kembali di Riyadh pada 2007, memperjelas bahwa keamanan bagi Israel sangat tergantung pada keadilan dan harapan bagi orang-orang Palestina. Inisiatif tersebut telah disambut oleh banyak negara Muslim, termasuk Pakistan, dan tampaknya menjadi salah satu harapan terakhir untuk perdamaian di wilayah tersebut.

Bagi mereka yang menolak teori apokaliptis benturan peradaban tapi merasa cemas dengan pertumbuhan polarisasi di dunia, pembentukan negara Palestina menjadi lebih kritis ketimbang sebelumnya. Saya yakin bahwa jika harus ada rekonsiliasi antara Israel dan Pakistan, maka pendudukan harus diakhiri. Negara Palestina yang merdeka adalah taruhan terbaik Israel untuk perdamaian, keamanan, dan penerimaan di dunia Muslim yang lebih luas.

###

* Rehan Rafay Jamil adalah wartawan dan penulis lepas yang tinggal di Karachi. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 1 April 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Saya menerima enam pertanyaan dari beberapa orang yang bekerja bagi Layanan Berita Common Ground. Saya berharap agar para mahasiswa dan ahli di universitas kami (Al Azhar), sekaligus mereka yang peduli dengan berbagai hal intelektual secara umum, akan mencatat upaya di balik pertanyaan-pertanyaan ini, bagaimana mereka diterbitkan hanya setelah pengumpulan informasi secara ekstensif dan kajian yang dapat mengisi kekosongan, dan setelah pemikiran yang terorganisasi yang menarik hubungan - hubungan antara berbagai kenyataan dan yang tidak menyibukkan diri dengan ilusi, membuang waktu, dan kepicikan yang meruntuhkan bangunan pengetahuan."

- Sheikh Ali Gomaa, Imam Agung Mesir
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Mengabaikan Al Jazeera
Dialog Si Tuli
Membasmi Fitna
Pengertian Iran-Kanada Lewat Jamuan teh
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Mengabaikan Al Jazeera oleh Lawrence Pintak
Dialog Si Tuli oleh Jørgen S. Nielsen
Membasmi Fitna oleh Ibrahim el Houdaiby
Pengertian Iran-Kanada Lewat Jamuan teh oleh Gladys Terichow