Membandingkan Kisah-kisah Perang Irak

oleh Lisa Schirch
11 April 2008
Cetak
Email
Washington, DC Amerika dan Irak menceritakan dua kisah yang berbeda tentang perang di Irak. Kebanyakan orang Irak berkata bahwa serangan yang dipimpin AS dan pendudukan telah menyiram bahan bakar terhadap kekerasan. Kisah umum yang diceritakan Amerika adalah bahwa pasukan AS sedang mengendalikan kekerasan sektarian dan menciptakan keadaan yang lebih baik di Irak. Perbedaan pandangan ini sangat memperlemah upaya-upaya diplomasi publik di seluruh dunia Muslim, yang sangat membutuhkan upaya jauh lebih besar untuk memahami sudut pandang Irak.

Minggu lalu, saya sedang minum teh dengan sekelompok pekerja pembangunan masyarakat Irak di Amman, Yordania. Percakapan beralih dari upaya-upaya mereka untuk mendamaikan para pemimpin Sunni, Syiah dan Kurdi di berbagai pedesaan di penjuru Irak ke pertanyaan yang lebih besar mengenai bagaimana mendamaikan kisah AS dan Irak tentang perang tersebut.

"Tahukah orang Amerika kalau mereka telah membuat keadaan semakin buruk? Tahukah mereka bahwa di sini tidak ada Al Qaeda sebelum perang, tetapi sekarang kota-kota kami penuh dengan teroris?"

Yang paling banyak, walaupun tentu saja bukan satu-satunya kisah versi Irak, kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

"Walaupun sebagian dari kami menginginkan Amerika Serikat membantu menggulingkan Saddam Husein, namun kebanyakan dari kami berpikir bahwa Amerika tinggal terlalu lama. Kehadiran AS di Irak menyiram bahan bakar terhadap kekerasan sektarian dan telah menjadi sebuah magnet bagi Al Qaeda dan para pejuang asing lainnya. Irak merasa dipermalukan oleh pendudukan tersebut dan percaya bahwa Amerika Serikat terus bertahan di Irak untuk membenarkan pembangunan pangkalan militer permanen dan memastikan akses terhadap minyak Irak bagi perusahaan-perusahaan AS. Kami ingin Amerika Serikat mengumumkan jadwal kepergiannya. Kekerasan akan menurun begitu Amerika Serikat hengkang."

Irak menyebut penghinaan atas pendudukan sebagai alasan utama mengapa mereka ingin Amerika Serikat meninggalkan negara mereka. Banyak orang Irak percaya bahwa kepentingan-kepentingan AS bergerak antara minyak Irak dan pembentukan pangkalan-pangkalan militer permanen di Irak, jika bukan mengendalikan politik Irak. Mereka mengatakan ironis bahwa mereka yang menginginkan "sekat lunak" dari Irak merupakan sekutu-sekutu yang tidak terduga; demikian juga, sebuah sekat akan memungkinkan pengaruh-pengaruh lebih besar dari kepentingan-kepentingan minyak Amerika Serikat, Iran, Al Qaeda dan korporat. Kebanyakan bangsa Irak sendiri, di sisi lain, lebih memilih sebuah pemerintah pusat yang kuat yang mengendalikan minyaknya sendiri.

Kisah Irak ini diperkuat oleh data jajak pendapat. Sebuah jajak pendapat baru ABC/BBC menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen rakyat Irak ingin Amerika Serikat meninggalkan Irak. Kebanyakan percaya "gelombang" pasukan AS telah meningkatkan dan bukan menurunkan kekerasan di Irak. Jajak-jajak pendapat sebelumnya yang dilakukan oleh Pendapat Publik Dunia menunjukkan bahwa walaupun hampir setengah penduduk Irak mendukung serangan pasukan AS, hanya 1 persen menyetujui serangan-serangan terhadap rakyat sipil dari berbagai garis sektarian.

Di Amerika Serikat sini, yang dominan adalah kisah yang cukup berbeda. Begini:

"Walaupun sebagian dari kami percaya bahwa tidak seharusnya kami berperang sejak awal, banyak yang sekarang percaya bahwa Amerika Serikat mempunyai suatu tanggung jawab untuk mencegah kekerasan sektarian yang kami percaya dapat meruntuhkan negara tersebut. Para pemimpin Amerika dari berbagai warna politik percaya Amerika Serikat seharusnya bertahan di Irak hingga keamanan membaik. Masyarakat Amerika umumnya setuju bahwa sebuah demokrasi yang hidup di Irak merupakan titik utama kepentingan-kepentingan AS dalam perang melawan teror."

Dalam kisah ini, banyak orang Amerika melihat adanya dua pilihan: kehadiran militer AS dalam jangka panjang, atau kemunduran AS yang akan menyebabkan peperangan sektarian. Tetapi ada pilihan ketiga bagi keterlibatan bertanggung jawab AS di Irak.

Jenderal Petraeus mengingatkan lebih dari setahun lalu bahwa di Irak "tidak ada solusi militer, yang ada hanyalah solusi ekonomi dan politik." Jika kehadiran AS memang lebih memperburuk kekerasan di Irak daripada mengendalikanya, sudah saatnya untuk mengambil satu langkah ke depan: menarik mundur pasukan AS, mendukung pasukan perdamaian internasional, memulai diplomasi regional yang gigih, dan berinvestasi dalam pembangunan kembali dan bantuan kemanusiaan bagi hampir lima juta rakyat Irak yang terlantar. Rencana ini akan lebih tepat menjawab harapan-harapan demokratis dari rakyat Irak.

Sudah saatnya Amerika lebih melibatkan bangsa Irak secara langsung dalam dialog untuk membangun sebuah jembatan antara dua kisah yang begitu berbeda ini. Diskusi-diskusi kebijakan kami tentang "apa yang harus dilakukan terhadap Irak" perlu melibatkan masyarakat madani, pemerintah atau para pemimpin keagamaan Irak dan secara serius mempertimbangkan data jajak pendapat dan pemilihan umum Irak sebagai tanda-tanda keinginan bangsa Irak agar pasukan militer Amerika meninggalkan negara mereka.

###

* Lisa Schirch adalah profesor pembangunan perdamaian pada Eastern Mennonite University, direktur dari Prakarsa Keamanan 3D dan telah bekerja di Irak dengan organisasi-organisasi pembangunan perdamaian setempat. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 8 April 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Baik bagi para ahli maupun pembuat kebijakan, berbagai materi tentang Timur Tengah yang dihasilkan oleh Search For Common Ground sangat menonjol. Jika orang mencarik analisis yang seimbang dan mendalam, ini adalah tempat untuk memperoleh sebuah pengertian yang lebih baik tentang kerumitan Timur Tengah kontemporer."

- Dr. Robert O. Freedman, Profesor Ilmu Politik pada Peggy Meyerhoff Pearlstone, Baltimore Hebrew University dan Dosen Tamu Ilmu Politik pada Johns Hopkins University
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Geert Yang Tak Terkendali
Diculik di Pakistan: Akhir dari Keteladanan Amerika?
Timur Bertemu Barat dalam Pendidikan di Indonesia
Afghanistan, Pakistan dan NATO
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Geert Yang Tak Terkendali oleh Moushumi Khan
Diculik di Pakistan: Akhir dari Keteladanan Amerika? oleh Hady Amr
Timur Bertemu Barat dalam Pendidikan di Indonesia oleh Ali Noer Zaman
Afghanistan, Pakistan dan NATO oleh Karl F. Inderfurth