Perempuan Muslim Afrika Amerika Adalah Anugerah yang Jarang

oleh Aisha H.L. al-Adawiya
06 Juni 2008
Cetak
Email
New York, New York Perempuan Muslim Afrika Amerika merupakan anugerah yang jarang karena kami mempunyai perspektif yang khas tentang apa artinya menjadi Muslim di Amerika Serikat. Rujukan sejarah kami sebagai perempuan telah secara khusus mengasah dan menyediakan jawaban bagi isu-isu penindasan dan perjuangan bagi kebebasan di samping kesempatan dan keberhasilan.

Kami memiliki pengalaman berkomunikasi dengan mereka yang berbeda agama dan budaya; kami memiliki ketahanan yang diperlukan bagi perjuangan kepentingan keadilan sosial secara berkelanjutan. Kehidupan kami terjalin dengan mereka yang menindas dan mereka yang ingin membebaskan.

Kebanyakan dari kami tidak dibesarkan oleh orang tua Muslim; kami tumbuh dalam sebuah rumah tangga yang kebanyakan beragama Kristen dan diajarkan di sekolah dalam hal etika, pelayanan masyarakat, dan kemandirian. Tetapi kami mencari sebuah spritualitas baru. Kami menginginkan sebuah cara hidup baru yang akan mengisi eksistensi kami saat ini selain tetap mempertimbangkan masa lalu kami yang sulit. Islam merupakan jawabannya.

Ketika kami memeluk Islam, ajaran-ajaran yang telah tertanam dalam diri kami seperti rasa hormat kepada orang tua dan sepuh, tanggung jawab terhadap keluarga, saudara, dan tetangga, sebuah etika kerja yang kuat dan komitmen bagi perbaikan diri menjadi semakin kuat. Agama baru kami memberikan kami sebuah struktur bagi pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan sepanjang hidup kami.

Banyak perempuan Muslim Afrika Amerika yang aktif mencari jalan pencerahan spiritual baru melalui penelitian dan interaksi dengan Muslim lain, khususnya di lingkungan-lingkungan yang lebih urban, sementara yang lainnya memeluk Islam setelah bertemu dan menikahi Muslim dari negara-negara lain. Di antara semua alasan kami memilih Islam, satu yang paling menguatkan adalah penekanan agama terhadap keluarga.

Namun yang lain memilih Islam karena alasan status yang dimiliki oleh kaum perempuan Muslim, seperti yang menjadi alasan saya. Dalam Islam, kami melihat sebuah peluang untuk reka ulang diri kami sendiri sebagai perempuan. Banyak dari kami yang bahkan mengubah nama. Kami tidak berusaha untuk melebur ke dalam masyarakat sesungguhnya kami sudah lebur sepenuhnya. Kami tahu bahwa kami dapat menjadi kuat karena spiritualitas kami bukan sebaliknya.

Iman kami terus diperkuat oleh praktik-praktik harian Islam. Kami berkaca kepada perempuan-perempuan kuat di sekeliling Nabi Muhammad, seperti isterinya, Khadijah, sebagai suri teladan. Mereka telah membuka jalan yang jelas bagi kami karena mereka termasuk golongan Muslim pertama dan, seperti kami, telah memeluk Islam sembari tetap hidup dalam sebuah masyarakat yang dikuasai non-Muslim.

Banyak perempuan Muslim berjuang melawan penindasan kebudayaan dalam masyarakat-masyarakat mereka sendiri. Tetapi ketika para imigran perempuan Muslim berjuang sebagai minoritas baru dalam budaya yang dominan, perempuan Muslim Afrika Amerika memiliki kemampuan untuk memahami bagian-bagian mana saja yang harus diukur karena pengetahuan sejarah yang kami miliki tentang bagaimana penindasan mewujudkan diri sendiri.

Kami membawa luka-luka yang diakibatkan perbudakan selama berabad-abad dan dampak-dampak yang tertinggal yang terus hidup hingga hari ini. Kami telah kehilangan dan terus kehilangan anak-anak dan orang-orang yang kami cintai akibat rasisme melembaga yang merusak yang terwujud melalui kebijakan-kebijakan yang menindas dan mengabaikan, seperti perampasan ekonomi, kriminalisasi kaum muda kita, layanan kesehatan yang tidak memadai, dan pendidikan yang tidak bermutu. Berdasarkan pengalaman-pengalaman ini, kami dapat menawarkan hikmah-hikmah pelajaran bagi para imigran Muslim yang berjuang untuk mewujudkan janji-janji yang dibuat Amerika bagi para pendatang baru. Di halaman depan negara, Pulau Ellis, kami berkata kepada mereka, "Serahkan kepada kami harapan kalian yang bergumpal dalam kelelahan dan kemiskinan untuk merdeka".

Banyak dari kami yang akhirnya merasa bahwa Islam telah menjadi sebuah kendaraan bagi pemberdayaan suku bangsa Afrika Amerika, dan khususnya kaum perempuan Afrika Amerika. Kami dapat berbicara fakta akan potensi luas yang ditawarkan oleh agama tidak hanya kepada perempuan, tetapi seluruh umat manusia, dalam wahana spiritualitas pribadi, masyarakat, kesetaraan, dan keadilan.

Mengingat perspektif unik kami tentang sejarah, kami siap terlibat dalam perjuangan-perjuangan untuk menegakkan keadilan sosial dalam masyarakat Muslim tidak hanya bagi seluruh bangsa Amerika, tapi bahkan, setiap warga dunia. Tetapi kami tidak dapat menyerukan perubahan konstruktif dalam masyarakat lebih luas tanpa mengatasi penyakit-penyakit sosial dalam masyarakat kami sendiri.

Isu-isu seperti pembunuhan atas nama martabat dan kekerasan rumah tangga harus diatasi dan diselesaikan. Kita harus membantu mematahkan hambatan-hambatan kebudayaan yang mencegah semua perempuan Muslim memperoleh pendidikan, mendatangi masjid, dan berperan serta dalam organisasi-organisasi Islam dan proyek-proyek sipil. Kegagalan melakukan hal itu merupakan hal yang bertentangan langsung dengan teladan-teladan dari para perempuan yang telah kami jadikan mentor-mentor kami.

Di saat yang bersamaan, kami juga berusaha mencari peluang-peluang untuk membangun koalisi dengan orang lain yang melintasi batas-batas rasial, keagamaan, etnis, dan sosio-ekonomi untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan, dan kerukunan tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga bagi para tetangga kita. Pengalaman sejarah dari bangsa Afrika Amerika, digabungkan dengan perempuan Muslim, telah mengajarkan kami nilai usaha kolektif bagi perdamaian dan keadilan sosial.

###

* Aisha H.L. al-Adawiya adalah pendiri dan direktur eksekutif dari Women in Islam, Inc., sebuah organisasi perempuan Muslim yang memusatkan perhatian pada hak-hak asasi manusia dan keadilan sosial. Artikel ini merupakan bagian dari seri Muslim Afrika Amerika yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 3 Juni 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Artikel-artikel Layanan Berita Common Ground - Timur Tengah memberikan harapan bahwa ada orang-orang di luar sana yang bekerja demi peyelesaian - penyelesaian yang diilhami kebutuhan untuk hidup berdampingan dalam toleransi dan dengan harapan bagi sebuah masa depan yang lebih baik."

- Christopher Patten, Mantan Komisaris Hubungan Eksternal, Komisi Eropa
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Lebanon: Kembali ke Jalur?
Pakistan Melalui Cermin Irak
Apa yang diperlukan Lebanon Kini?
~Pandangan Kaum Muda~ Menit-menit Berlalu dan Dunia Terberai
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Lebanon: Kembali ke Jalur? oleh Graeme Bannerman
Pakistan Melalui Cermin Irak oleh Marvin G. Weinbaum dan Edward P. Joseph
Apa yang diperlukan Lebanon Kini? oleh Hady Amr
~Pandangan Kaum Muda~ Menit-menit Berlalu dan Dunia Terberai oleh Noa Epstein dan Abed Eriqat