Seni Sebagai Duta untuk Melongok Ke Dalam Islam

oleh Alan Riding
08 September 2006
Cetak
Email
London – Bukanlah sebuah kebetulan yang menggembirakan bahwa galeri seni Islam di Museum Victoria dan Albert yang baru diperbaharui dengan indah harus dibuka bulan lalu bertepatan dengan saat Timur Tengah sekali lagi terbakar.

Biar bagaimanapun, salah satu tujuan galeri tersebut adalah untuk mempertunjukkan kepada para pengunjung yang sebagian besar orang Barat suatu gambaran yang berbeda dari dunia Islam, gambaran yang begitu hidup tentang kecanggihan cita rasa keindahannya yang begitu berbeda dengan gambaran umum keradikalan yang sering ditampilkan dalam halaman muka berbagai harian.

Tentu saja, dengan pemikiran seperti ini di kepala maka Mohammed Jameel, seorang Saudi kaya, mau menanamkan uang sebesar $9,8 juta untuk menampilkan kembali koleksi Islami Victoria dan Albert untuk pertama kalinya dalam setengah abad. Tempat pameran terletak di lantai utama museum yang sekarang diberi nama Galeri Seni Islam Jameel untuk mengenang orang tua sang dermawan.

Namun gejolak politik di Israel, Gaza, Lebanon, Irak dan seterusnya hanya menggarisbawahi tantangan penggunaan masa lalu untuk menerangi masa kini. Dengan kata lain, dapatkah 400 benda seni yang telah dipilih dengan hati-hati, beberapa di antaranya berasal dari abad ke-11 M, memberikan kita pandangan yang baru tentang apa yang sedang terjadi di Timur Tengah dewasa ini?

Pertanyaan tersebut penting karena, terutama sejak 11/9, banyak museum di Eropa dan Amerika Serikat yang mulai menyoroti berbagai koleksi dan pameran seni Islam sebagai cara untuk mendorong pemahaman lebih besar dan menjembatani kesenjangan antara dunia Yahudi-Kristen dan Muslim.

Di Eropa Barat, strategi ini juga mengesankan pengakuan atas Islam, yang karena besarnya imigrasi dari Afrika Utara, Turki, Pakistan, dan Bangladesh, sekarang juga merupakan agama Eropa – dan karenanya penting baik bagi orang Eropa untuk menunjukkan rasa hormat kepada budaya Islam dan bagi para imigran Muslim dan anak keturunan mereka untuk berbangga dengan masa lalu mereka.

Tetapi apakah kita berharap terlalu banyak dari seni, dengan memberikannya beban politik yang begitu besar?

Namun buktinya, kebudayaan selalu menjadi alat politik. Dan tidak terkecuali di Timur Tengah. Seperti halnya ketergantungan seni Eropa kepada kerajaan dan gereja hingga masa pencerahan kembali (Renaissance), seni Islam dari abad ketujuh hingga jatuhnya Kekaisaran Ottoman setelah Perang Dunia I tidak dapat dipisahkan dari sistem kekuasaan politik dan agama.

Bahkan dewasa ini, misalnya, Perancis tanpa malu-malu berusaha menarik perhatian negara-negara dunia ketiga dengan mendirikan Musée du Quai Branly yang bernilai $ 295 juta untuk seni rupa dari kebudayaan non-Barat. Dan, dengan sasaran umat Muslim di tanah air dan luar negeri, Louvre akan menghabiskan $ 60 juta untuk sebuah sayap bangunan baru yang ambisius, rencananya dibuka pada 2009, untuk menampung koleksi Islaminya.

Tujuan Victoria dan Albert lebih sederhana: untuk menceritakan seni Islami dengan cara yang ringkas dan dapat dicerna – tanpa merujuk ke masa ini. Namun pendekatan ini juga mengandung makna: dengan mengintip dari lubang kunci kesenian, kita dapat melihat sebuah dunia yang lebih kompleks dan halus daripada teokrasi-teokrasi yang kaku, yang menindas dan berpandangan sempit yang didukung oleh beberapa kelompok eksremis Muslim seperti sekarang.

Selama pembangunan Galeri Jameel, Victoria dan Albert menampilkan sebagian dari koleksi Islaminya di Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris bagian utara dalam sebuah pameran keliling bertajuk "Istana dan Masjid". Dan judul ini memberikan kerangka konseptual tentang pameran terbarunya di sini: melayani baik istana dan masjid, seni Islam mengambil bentuk sekuler sekaligus keagamaan.

"Karakter politik seni Islam bangkit karena, dengan ketiadaan pendeta, peran formatif dalam pengembangannya jatuh kepada mereka yang secara politik berkedudukan kuat," Tim Stanley, kurator senior koleksi Timur Tengah di Victoria dan Albert, menulis dalam sebuah katalog yang menemani pameran "Istana dan Masjid". Dengan kata lain, seni Islam selalu mencerminkan kenyataan-kenyataan politik.

Variabel-variable ini memasukkan dunia luar. Setelah wafatnya Nabi Muhammad pada 632 A.D., seni rupa Islam mewarisi dua tradisi artistik yang berbeda: Mereka yang memilih Byzantium Kristen ke barat dan Kekaisaran Sassanian ke timur. Kemudian, seiring dengan Kekaisaran Muslim baru menyapu barat hingga ke Spanyol dan, kemudian, hingga ke Asia, ia menyerap berbagai pengaruh baru, khususnya dari Cina.

Namun demikian, walaupun seni Islam mencerminkan tingkah rezim-rezim yang terus berganti, dari zaman awal Khalifah Umayyad dan Abbasid hingga yang terakhir dinasti Safavid, Qajar, dan Ottoman. Dan di sini, larangan Islam atas seni yang menampilkan figur seseorang diterjemahkan secara berbeda.

Seni bernafas agama menghormati aturan tersebut tanpa kecuali, dengan mengandalkan kutipan kaligrafi dari Al Qur'an dan bentuk abstrak, sering kali bentuk geometris dan ornamentasi. Tetapi seni sekuler, termasuk di dalamnya benda-benda yang bermanfaat seperti permadani, vas keramik, peti gading, kendi kaca, dan metal, sering menampilkan bentuk tanaman dan hewan. Beberapa penguasa Muslim bahkan memesan potret mereka sendiri. Dan walaupun kaligrafi tetap penting, ia juga menggunakan bait-baik puisi selain
ayat-ayat Al Qur'an.

Eklektisisme dengan baik tergambarkan dalam pilihan kecil dari 10.000 koleksi benda seni Islam Victoria dan Albert. Galeri Jameel sendiri telah dirancang dengan menampilkan permadani yang dikenal dengan sebutan Ardabil, yang oleh museum digambarkan sebagai "permadani tertua di dunia." Berukuran 36 kali 16 kaki, atau sekitar 11 kali 5 meter, dan terdiri atas 30 juta ikatan tangan, permadani tersebut dibuat pada sektitar 1539-1540 M untuk Masjid Ardabil di barat laut Iran.

Di masa lalu, permadani tersebut tergantung secara vertikal dan sulit untuk dinikmati. Sekarang, ia terbentang di tengah galeri dan diletakkan di dalam suatu bingkai yang dibuat khusus dengan pencahayaan yang tepat. Sebagai permadani yang digunakan untuk beribadat, rancangannya yang rumit dengan menggunakan 10 warna tidak menampilkan figur apapun sama sekali. Sebaliknya, tergantung tidak jauh, terdapat sehelai permadani yang dikenal sebagai permadani Chelsea, juga berasal dari abad ke-16 M Persia, yang tampak hidup dengan bunga-bungaan, buah-buahan, dan hewan, seperti membangkitkan kesan surga di bumi.

Yang lebih tidak terduga adalah sebuah jubah Kristen dari abad ke-17 M yang menggambarkan penyaliban, yang dibuat dalam gaya seni rupa Islam untuk digunakan oleh para pendeta Armenia yang hidup di kota Isfahan di Iran. Ini juga mengingatkan kita bahwa dunia Islam memiliki warga beragama Kristen dalam jumlah besar, demikian juga Yahudi.

Benda-benda lain tidak membutuhkan penjelasan untuk dikagumi: sebuah mangkuk batu kristal abad ke-11 M dari Mesir; sebuah lampu masjid tembikar Iznik abad ke-16 M dari Istanbul; sebuah mangkuk abad ke-15 M yang menggambarkan sebuah kapal Portugis yang sedang berlayar yang dibuat di Spanyol dengan menggunakan teknik pengilapan yang diciptakan di Irak berabad-abad sebelumnya; sebuah mimbar kayu setinggi 19 kaki yang dibuat pada akhir abad ke-15 M untuk sebuah masjid di Kairo.

Melalui pameran ini, sorotan baru sekarang diarahkan ke sebuah kebudayaan yang telah lama terabaikan.

Namun, bagi Victoria dan Albert, ini semua sama sekali bukan benda baru: didorong oleh keindahan benda-benda seni ini, keinginan untuk belajar dari keindahan rancangannya, museum memperoleh kebanyakan koleksinya pada abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M, jauh sebelum Timur Tengah berarti masalah. Nabi sendiri dikutip mengatakan: "Tuhan itu indah dan Dia mencintai keindahan." Pada masa yang buruk sekarang ini, kalimat ini mungkin berharga untuk diingat.

###

Alan Riding adalah veteran koresponden The New York Times. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.

Sumber: International Herald Tribune, 3 Agustus 2006, www.iht.com
Ijin hak cipta telah diperoleh untuk publikasi.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Baik bagi para ahli maupun pembuat kebijakan, berbagai materi tentang Timur Tengah yang dihasilkan oleh Search For Common Ground sangat menonjol. Jika orang mencarik analisis yang seimbang dan mendalam, ini adalah tempat untuk memperoleh sebuah pengertian yang lebih baik tentang kerumitan Timur Tengah kontemporer."

- Dr. Robert O. Freedman, Profesor Ilmu Politik pada Peggy Meyerhoff Pearlstone, Baltimore Hebrew University dan Dosen Tamu Ilmu Politik pada Johns Hopkins University
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Mari Berhenti Menyebutnya Moderat
Jilbab dan Identitas Muslim
Bagaimana Menjembatani Dua Pandangan Tentang Keberhasilan di Irak
Lihat Siapa Yang Adil dan Seimbang
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Mari Berhenti Menyebutnya Moderat oleh Pendeta Canon Andrew P B White
Jilbab dan Identitas Muslim oleh Mujtaba Hamdi
Bagaimana Menjembatani Dua Pandangan Tentang Keberhasilan di Irak oleh Janessa Gans
Lihat Siapa Yang Adil dan Seimbang oleh Lawrence Pintak