Hubungan Muslim-Barat
 
Benarkah al-Qur’an memusuhi orang Yahudi dan Kristen?
oleh Leena El-Ali
11 Desember 2009
Cetak
Email
Washington, DC – Ketika ada kekerasan yang dilakukan atas nama Islam, para pelakunya sering berdalih bahwa umat Muslim memang tidak perlu menjalin hubungan baik dengan para penganut agama lain, khususnya Yahudi dan Kristen. Mereka biasanya mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang menurut mereka membuktikan bahwa orang Yahudi dan Kristen adalah musuh bagi orang Islam. Tak mengherankan, sebagian non-Muslim sering pula merujuk ayat-ayat yang dikutip itu sebagai bukti bahwa Muslim merupakan ancaman bagi mereka, sehingga tanpa sadar membenarkan adanya sikap permusuhan terhadap Islam.

Tapi apa yang sebenarnya disampaikan oleh ayat-ayat itu?

Sering kali orang lupa bahwa al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad dalam kurun waktu 23 tahun masa kenabiannya, dimulai saat ia berumur 40 tahun hingga akhir hayatnya pada 632 M. Ketika al-Qur’an diwahyukan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad, ayat-ayatnya tentu juga menguraikan tentang berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Muslim yang baru tumbuh, selain persoalan-persoalan teologi dan spiritual yang biasa coba dijelaskan oleh sebuah agama baru.

Oleh karena itu, wajar jika hampir dua pertiga al-Qur’an mengisahkan riwayat hidup nabi-nabi Yahudi dan juga Isa dan Maryam sebagai teladan spiritual, sementara sepertiga sisanya memuat berbagai aturan perilaku bagi para penganut agama baru yang nantinya dinamai Islam itu.

Secara umum, aturan-aturan ini berisi dua tema besar: amal baik dalam kehidupan pribadi, sosial dan keluarga, dan catatan terhadap sebuah peristiwa masa lalu atau masa itu—termasuk masalah-masalah politik dan masyarakat.

Ayat-ayat yang dianggap memusuhi orang Yahudi dan Kristen biasanya masuk dalam kategori terakhir ini. Sebagai contoh, meskipun kedua komunitas itu disebut oleh banyak ayat al-Qur’an sebagai “Ahli Kitab”—orang-orang yang kepada kaum mereka diturunkan kitab suci oleh Tuhan—sebagian dari ayat-ayat itu (sekitar 30-an dari 6.236 ayat al-Qur’an) membicarakan ketegangan antara komunitas Kristen dan Yahudi dengan komunitas Muslim di masa-masa awal. Ajaran Muhammad adalah sesuatu yang baru dan oleh karenanya wajar jika dipandang dan ditanggapi dengan penuh curiga oleh kebanyakan orang Yahudi dan Kristen waktu itu.

Reaksi seperti ini tak terlalu mengherankan sebetulnya karena sepanjang sejarah memang mustahil bagi kebanyakan penganut suatu agama untuk begitu saja mempercayai pendiri agama lain yang muncul di tengah-tengan mereka.

Ayat-ayat yang dianggap memusuhi orang Yahudi dan Kristen seharusnya dibaca sesuai konteks pada waktu ayat-ayat itu diturunkan. Misalnya, ketika salah satu suku Yahudi yang bersekutu dengan Muslim mengkhianati mereka, maka umat Muslim tentu saja diperingatkan untuk lebih berhati-hati ketika mencari perlindungan pada atau sekutu dari komunitas yang lain.

Tapi apakah perintah al-Qur’an terkait kejadian khusus seperti itu masih layak diberlakukan pada hubungan antara Muslim, Kristen dan Yahudi sekarang?

Taurat dan Injil disebut belasan kali dalam al-Qur’an—selalu secara simpatik—dan digambarkan sebagai “petunjuk dan cahaya” bagi manusia. Sehingga para pengikutnya yang beramal baik, bersama Muslim yang beramal baik “tak perlu merasa takut dan khawatir.”(Qur'an 2:38).

Musa disebutkan dalam al-Qur’an tak kurang 136 kali, dengan menceritakan kembali kisah-kisah yang telah dikenal sebelumnya oleh pembaca Injil. Perlawanannya terhadap Firaun berkaitan dengan perbudakan Bani Israil di Mesir disebutkan berulang kali di banyak ayat.

Sementara itu Isa disebut 25 kali, dengan berbagai julukannya seperti al-Masih (juru selamat), putra Maryam, Kalimatullah (sabda Tuhan), Ruhullah (rahmat Tuhan) di 15 surah. Kisah-kisah yang ada dalam Injil tentangnya dituturkan kembali dalam al-Qur’an, termasuk kelahirannya dari ibu yang perawan, kemampuannya menyembuhkan orang buta dan penderita lepra, serta kemampuannya membangkitkan orang mati; bahkan nama surah kelima al-Qur’an adalah Jamuan Terakhir (al-maidah). Nama Maryam disebutkan 34 kali dan ada nama surah dalam al-Qur’an yang memakai namanya, dan ia pun digambarkan sebagai wanita termulia di antara semua makhluk.

Umat muslim bahkan diajari bahwa pernikahan lintas agama dengan orang Yahudi dan Kristen diperkenankan dalam Islam, meski pun karena adat-istiadat Arab yang patriarkis atau karena ayat yang bersangkutan tampaknya memang ditujukan untuk kaum laki-laki, biasanya sulit bagi seorang perempuan Muslim menikah dengan laki-laki (yang dianggap sebagai kepala rumah tangga) Yahudi atau Kristiani.

Semua ayat al-Qur’an yang membicarakan Isa atau Injil, Musa atau Taurat, menegaskan dan menghargai kedudukan tinggi mereka. Ini memberikan sudut pandang lain bagi mereka yang tidak percaya bahwa Tuhan mengirimkan pada manusia satu agama, dan membuatnya dianut jutaan manusia selama berabad-abad hanya untuk kemudian mengirimkan agama yang lain untuk “menyempurnakan” atau “melengkapi”-nya—seperti diyakini sebagian Muslim sekarang tentang peran Islam terhadap agama Yahudi dan Kristen. Memang ada sebuah perbedaan teologis antara keyakinan Islam dengan keyakinan Kristen, dimana dalam Islam Isa dipandang sebagai nabi/rasul, dan bukan anak Tuhan. Tapi toh, pesan intinya adalah tentang hidup saling berdampingan, dan bukannya bermusuhan.

Sangatlah disayangkan ketika sebagian kita menerima begitu saja tafsir-tafsir yang dapat menyuburkan perasaan ketakutan atau kebencian pada apa yang tidak kita mengerti, melegitimasi ketakutan tersebut dengan menggunakan kitab suci kita atau kitab suci orang lain—dalam hal ini al-Qur’an. Padahal jika saja kita menyimak ayat demi ayat dengan seksama dan dengan pikiran terbuka, kita akan dibuat yakin—atau malah terpukau—oleh pesan-pesannya yang kuat dan akrab.

###

* Leena El-Ali ialah Direktur Mitra Kemanusiaan, sebuah program yang mendorong relasi Muslim-Barat yang dinamis dan konstruktif di Search for Common Ground, organisasi internasional yang bergerak di bidang transformasi konflik. Artikel ini dimuat pertama kali oleh The Bradenton Herald dan ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) sebagai bagian dari seri mitos Islam sebagai agama kekerasan.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 11 Desember 2009, www.commongroundnews.org
Dipersilahkan untuk menerbitkan ulang artikel ini dengan menyebutkan sumber.
 
 
 
Bloger bulan ini
 
 
 
 
 
 
EDISI KHUSUS
 
 
 
 
 
ARSIP ARTIKEL
 
 
 
 
 
PANDANGAN KAUM MUDA
 
 

 

Artikel lain dalam edisi inin

Politik identitas Eropa tengah bermain oleh Ariel Kastner
Dorong kebaikan dan cegah keburukan di alam demokrasi oleh Novriantoni Kahar
Ketika Timur dan Barat bertemu lewat musik oleh Mehra Rimer
Mengagumi orang Amerika biasa oleh S. Nayyar Iqbal Raza