Forum Antara Agama Membuka Jalan Bagi Pemahaman

oleh Gede MN Natih
22 September 2006
Cetak
Email
Jakarta Mewakili semua tradisi agama besar, lebih dari 800 pemimpin agama dari lebih dari 100 negara berkumpul bulan lalu di Kyoto, Japan, pada Musyawarah Dunia Kedelapan, Konferensi Dunia tentang Agama bagi Perdamaian (WCRP), untuk membahas tema, "Menghadapi Kekerasan dan Memajukan Keamanan Bersama".

Musyawarah Dunia tentang Agama bagi Perdamaian, telah diadakan di Kyoto pada 1970, dan sejak saat itu dalam setiap musyawarah, telah menguatkan prinsip-prinsip keagamaan yang diyakini secara mendalam dan tersebar luas yang masih mengilhami usaha kita mencari perdamaian dewasa ini. Berbagi keyakinan atas kesatuan mendasar dari keluarga besar umat manusia, dan kesetaraan dan martabat semua makhluk, para delegasi menyerukan untuk kembali ke deklarasi yang dibuat pada musyawarah pertama. Di sana dinyatakan, "... Bukan agama yang telah gagal mencapai tujuan perdamaian, tetapi umat beragama. Pengkhianatan terhadap agama ini dapat dan harus diperbaiki." Tidak pernah sebelumnya datang saat yang lebih tepat untuk mencerminkan dan melakukan tindakan sesuai deklarasi ini.

Dewasa ini kita hidup dalam cengkeraman begitu banyak bentuk kekerasan, baik langsung maupun struktural, dan konflik-konflik dengan kekerasan memakan korban jiwa dan menghancurkan masyarakat. Ancaman yang beragam dan saling berkaitan yang dialami oleh tak terhitung umat manusia menyerukan bagi terciptanya suatu pemahaman lebih luas tentang kekerasan di dunia, dan masyarakat keagamaan dunia harus memainkan peran utama dengan bermitrakan satu sama lain dan semua lapisan masyarakat untuk mencegah dan menghentikan perang, menyorot ketidakadilan, membasmi kemiskinan, dan memelihara bumi. Saat untuk melakukan ini adalah sekarang dan kunci bagi kita untuk menghadapi kekerasan adalah kerja sama berdasarkan rasa saling menghormati dan penerimaan.

Ancaman-ancaman fisik secara langsung merupakan definisi yang paling sering diajukan tentang kekerasan, tetapi pada kenyataannya kekerasan mengambil banyak bentuk yang beragam dan rumit. Ketidakadilan ekonomi yang membawa kepada kemiskinan mutlak dan kelaparan menelan korban 50,000 jiwa setiap hari, sementara penyakit-penyakit yang dapat dicegah dan diobati membunuh jutaan orang. Sementara, 25 juta orang telah meninggal akibat AIDS dan sekitar 40 juta orang lagi hidup dengan AIDS dan HIV. Dampak bagi masyarakat kita sangat menghancurkan.

Banyak perusahaan, terutama yang sekelas multinasional, mengejar kepentingan usaha mereka tanpa mempedulikan nilai-nilai yang mendorong pembangunan berkelanjutan, sementara kemunduran lingkungan dan berkurangnya sumber-sumber daya mengancam kemampuan planet kita untuk menyokong kehidupan. Para korban adalah mereka yang miskin dan tak berdaya yang rentan terhadap kekerasan dalam segala bentuk.

Sebagai orang yang memiliki keyakinan agama, semua delegasi sepakat bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk menghadapi kekerasan secara efektif dalam masyarakat kita ketika agama disalahgunakan sebagai pembenaran atau alasan bagi kekerasan. Masyarakat agama harus mengutarakan perlawanan mereka setiap saat agama dan prinsip-prinsipnya yang suci diselewengkan untuk melayani kekerasan.

Ajaran agama menyerukan kita untuk mengasihi sesama manusia dan memperlakukan masalah yang dihadapi orang lain seperti masalah kita sendiri. Lebih jauh, ada alasan praktis bagi kerja sama. Tak satu kelompok pun yang kebal terhadap kekerasan atau akibatnya. Perang, kemiskinan, penyakit, dan kehancuran lingkungan mempunyai dampak langsung atau tidak langsung bagi kita semua.

Setiap orang dan masyarakat menipu diri mereka sendiri jika mereka percaya bahwa mereka merasa aman jika orang lain menderita. Tak ada tembok yang cukup tinggi untuk menyekat kita dari dampak kebutuhan dan kelemahan orang lain. Tak ada bangsa yang dapat merasa aman ketika bangsa lain terancam. Keadaan kita tidak akan lebih aman daripada mereka yang paling lemah. Keamanan adalah sebuah komitmen bersama dan keyakinan moral dan etis dari beragam tradisi keagamaan di seluruh dunia menyediakan sebuah landasan moral untuk menghadapi kekerasan dengan segala bentuknya. Semua orang memiliki tanggung jawab kolektif untuk memenuhi kebutuhan bersama kita akan keamanan.

Menengok ke belakang ke Musyawarah Dunia Ketujuh Agama bagi Perdamaian, di Amman, Yordania, in pada 1999, sangat membesarkan hati mengetahui tentang inisiatif-inisiatif perdamaian yang telah dilaksanakan oleh berbagai orang yang berdedikasi di seluruh dunia sejak saat itu. Masih banyak yang harus dilakukan tetapi Agama bagi Perdamaian telah menjelma menjadi sebuah suara beragam agama global utama dan agen perdamaian. Dengan dituntun oleh rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan agama, di Indonesia dan seluruh dunia, kita akan terus berjuang untuk mendorong kerja sama antar beragam agama yang memanfaatkan kekuatan masyarakat agama untuk mengubah konflik, membangun perdamaian, dan memajukan pembangunan berkelanjutan.

Di Kyoto, para delegasi melakukan komitmen pada diri mereka sendiri untuk mencegah dan menghadapi kekerasan dalam segala bentuknya. Mereka percaya dalam kekuatan kerja sama antaragama untuk memajukan suatu pandangan bersama tentang keamanan bersama. Kami bertekad untuk memobilisasi masyarakat agama kita untuk bekerja bersama dan dengan semua sektor masyarakat untuk menghentikan perang, berjuang untuk membangun masyarakat berkeadilan, mendorong pendidikan dan perdamaian, mengentaskan kemiskinan dan memajukan pembangunan berkelanjutan bagi generasi masa depan.

###

* Gede MN Natih adalah anggota dewan penasihat Konferensi Indonesia Agama bagi Perdamaian (ICRP). Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di at www.commongroundnews.org.

Sumber: The Jakarta Post, 8 September 2006, www.thejakartapost.com
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Saya menerima enam pertanyaan dari beberapa orang yang bekerja bagi Layanan Berita Common Ground. Saya berharap agar para mahasiswa dan ahli di universitas kami (Al Azhar), sekaligus mereka yang peduli dengan berbagai hal intelektual secara umum, akan mencatat upaya di balik pertanyaan-pertanyaan ini, bagaimana mereka diterbitkan hanya setelah pengumpulan informasi secara ekstensif dan kajian yang dapat mengisi kekosongan, dan setelah pemikiran yang terorganisasi yang menarik hubungan - hubungan antara berbagai kenyataan dan yang tidak menyibukkan diri dengan ilusi, membuang waktu, dan kepicikan yang meruntuhkan bangunan pengetahuan."

- Sheikh Ali Gomaa, Imam Agung Mesir
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Pencarian akar fundamentalisme Islam
Saatnya Berbicara
~PANDANGAN KAUM MUDA~ Mahasiswa Mencari Metode-Metode Perdamaian Inovatif
Gedung Putih Mengirimkan Getaran Perdamaian ke Teheran
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Pencarian akar fundamentalisme Islam oleh Nader Hashemi
Saatnya Berbicara oleh Lee Marsden
~PANDANGAN KAUM MUDA~ Mahasiswa Mencari Metode-Metode Perdamaian Inovatif oleh Daniel Armanios
Gedung Putih Mengirimkan Getaran Perdamaian ke Teheran oleh David Ignatius