Tak ada beda antara orang Palestina yang Kristen ataupun Muslim: wawancara dengan Michel Sabbah

oleh Laurent Grzybowski
23 April 2010
Cetak
Email
Yerusalem - Berbeda dari pesimisme umum menyangkut konflik Israel-Palestina, mantan Patriark Latin Yerusalem, Michel Sabbah (77 tahun) tetap meyakini adanya koeksistensi Kristen-Muslim yang harmonis di Palestina dan mengungkapkan pikiran-pikirannya kepada reporter Laurent Grzybowski.

Bagaimana situasi orang-orang Kristen di Palestina?

Michel Sabbah: Sama saja seperti semua orang Arab di Palestina. Kristen atau Muslim, kami satu bangsa, dengan budaya yang sama dan sejarah yang sama; sebuah bangsa yang tengah berkonflik dengan bangsa lain. Sebuah bangsa yang hidup di bawah pendudukan militer tidak memerlukan belas kasih tapi memerlukan keadilan. Dalam konteks politik yang sangat tegang saat ini kami mencoba mengatasi tantangan-tantangan yang sama.

Apa artinya menjadi seorang Kristen?

Sabbah: Itu artinya berada dalam suatu masyarakat, dalam suatu dunia yang tidak kita pilih tapi telah diberikan kepada kita. Ranah kami adalah menjadi Kristen dalam sebuah masyarakat Arab yang mayoritasnya Muslim. Ini pengalaman biasa bagi kami. Kami telah punya sejarah beberapa abad.

Namun, belakangan orang bicara tentang sentimen anti-Kristen ...

Sabbah: Kejadian-kejadian individual antara Muslim dan Kristen bisa saja mempunyai dimensi komunitas. Dalam kasus-kasus ini ada para mediator, keluarga-keluarga yang dikenal akan kearifan dan otoritas mereka, yang bisa menyelesaikan konflik. Saya bisa bersaksi bahwa di Palestina, tak pernah lebih jauh dari itu. Tidak pernah ada pembantaian atau serangan teroris terhadap gereja. Saya tak pernah mendengar tentang sentimen anti-Kristen yang terbuka. Bahkan di Gaza, orang-orang Kristen dilindungi oleh Hamas.

Apakah situasi di Irak sama?

Sabbah: Tidak, di sana orang-orang Kristen adalah korban kekerasan dan dibunuh karena mereka orang Kristen. Tapi itu masalah gerakan politik – bukan agama. Para ekstremis berharap bisa membuat Irak tak stabil. Banyak orang Sunni dan Syiah juga telah dibunuh untuk alasan yang sama. Tidak ada gunanya untuk menuduhkan semua kejahatan kepada Muslim. Bekerja untuk perdamaian dan keadilan di Irak, seperti juga di tempat lain, adalah cara terbaik untuk menghindari eksodus massal orang-orang Kristen dari Timur. Sebuah masalah politik butuh solusi politik.

Apa yang Anda ingin sampaikan kepada mereka yang mendukung ide “benturan peradaban”?

Sabbah: Memang ada benturan tapi itu bukanlah benturan agama ataupun budaya. Itu benturan politik. Barat memperlakukan Timur dan orang-orang yang hidup di sana –entah mereka Kristen atau Muslim– sebagai manusia yang kurang sempurna. Selama hubungan antara yang dominan dan yang didominasi ini ada, kita tak akan pernah lepas dari lingkaran kekerasan. Terorisme global akarnya di situ.

Timur tidak bebas memilih nasibnya; Timur berada dalam dominasi Barat. Masalahnya bukanlah Islam, melainkan konfrontasi antara Timur dan Barat. Sejarah kolonialisasi telah membuka jalan bagi semacam kolonialisasi yang lain – yang lebih laten, tapi tak kalah nyata.

Apakah Anda tidak takut akan ekspansi Islam?

Sabbah: Itu adalah fantasi yang dikembangkan oleh mereka yang tidak mengerti dunia Timur pada umumnya, dan Islam pada khususnya. Selama orang-orang Palestina merasa tertindas, semua Muslim di dunia akan bersolidaritas dengan mereka dan bisa saja menciptakan kekacauan dari dalam masyarakat di mana mereka tinggal. Kita perlu mengakhiri hubungan ”yang kuat lawan yang lemah” antara Barat dan dunia Muslim, dan fokus pada pendidikan afirmatif mengenai kewarganegaraan dan penghormatan terhadap sesama. Kita perlu mengembangkan sebuah budaya koeksistensi yang membaur, belajar mengetahui satu sama lain, serta hidup dan berbuat bersama-sama dalam persatuan.

###

* Laurent Grzybowski adalah seorang jurnalis dan pengarang. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dengan seizin La Vie.

Sumber: La Vie, 1 April 2010, www.lavie.fr
Telah memperoleh izin publikasi.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Anda memperoleh izin saya [untuk menerbitkan artikel-artikel saya]. Selalu terkesan dengan layanan berita ini."

- John Esposito, Profesor Universitas dan Direktur Pendiri Pusat Pengertian Muslim-Kristen Pangeran Alwaleed Bin Talal pada Georgetown University
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Menjadi diplomat Arab di akhir pekan
Membumikan jazz di Pakistan
Pendekatan terpadu bagi tersangka kasus teror di Indonesia
Beragam ansambel musik yang menjembatani kebudayaan
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Menjadi diplomat Arab di akhir pekan oleh Josh Hilbrand
Membumikan jazz di Pakistan oleh Sundus Rasheed
Pendekatan terpadu bagi tersangka kasus teror di Indonesia oleh Prodita Sabarini
Beragam ansambel musik yang menjembatani kebudayaan oleh Wendy Sternberg