Siapkah warga Mesir menerima persamaan hak bagi semua orang tanpa memandang agama?

oleh Yasser Khalil
16 Juli 2010
Cetak
Email
Kairo – Warga Mesir sudah jemu dengan berbagai masalah yang selalu mereka hadapi selama beberapa dasawarsa: korupsi dan suap yang melumpuhkan sistem hukum dan upaya penegakannya; kemiskinan yang diderita oleh 20 persen penduduknya; tingkat pengangguran 10 persen yang hampir konstan; dan sistem pendidikan yang buruk hingga yang berdampak pada tingkat buta huruf sampai 27 persen.

Perubahan jelas ada dalam benak setiap warga Mesir, tapi apakah mereka benar-benar siap dengan perubahan demokratis dan praktis yang dijanjikan oleh Mohamed ElBaradei, mantan Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang menjadi kandidat dalam pemilihan presiden 2011 nanti?

Popularitas ElBaradei, yang meraih nobel tahun 2005, naik beberapa bulan lalu, terutama di kalangan anak-anak muda Mesir. Halaman kelompok pendukungnya dalam Facebook, “ElBaradei for Precidency of Egypt 2011”, memiliki lebih dari 240.000 anggota, tujuh persen dari kurang lebih 3,4 juta pengguna Facebook di Mesir. Ia juga didukung oleh Gerakan Pemuda 6 April, kelompok aktivis dalam Facebook yang dimulai pada 2008 untuk mendukung pemogokan buruh industri di sebuah kota di Mesir utara. Kelompok ini beranggotakan aktivis muda, bloger dan jurnalis-warga yang berhimpun secara daring (online) dan juga di jalanan untuk menyikapi berbagai masalah politik.

ElBaradei juga disegani di kalangan generasi tua, terlihat dari dukungan terhadap organisasi Asosiasi Nasional untuk Perubahan yang didirikannya untuk mengusung sistem politik yang berdasarkan demokrasi dan keadilan sosial yang sesungguhnya. Pendukung organisasi ini salah satunya adalah Ikhwanul Muslimin, kelompok oposisi terbesar di Mesir.

Kelompok-kelompok ini mendukung tujuh butir rencana reformasi politik ElBaradei menuju Mesir yang lebih baik. Rencana ini termasuk, di antaranya, mengakhiri keadaan darurat yang telah diberlakukan sejak 1981, memberikan kewenangan kepada pengadilan untuk memantau proses pemilihan, menyederhanakan syarat-syarat bagi pemilih dan membatasi masa jabatan presiden hingga dua kali masa jabatan.

Untuk mencapai tujuan-tujuan itu sejumlah modifikasi terhadap berbagai pasal dalam Konstitusi Mesir harus dilakukan. Meski banyak warga Mesir beranggapan bahwa modifikasi itu merupakan langkah yang perlu dilakukan, ajakan ElBaradei—yang dianggap oleh media dan banyak orang sebagai seorang liberal yang berpikiran terbuka—untuk meninjau ulang Pasal 2 Konstitusi Mesir, yang menyatakan bahwa Islam adalah agama resmi negara dan hukum Islam adalah sumber utama perundang-undangan di Mesir, mengundang reaksi keras.

Meski tidak secara khusus menyebutkan akan mengubah pasal ini, ElBaradei mengatakan bahwa, meski ia menghormati status Muslim sebagai kelompok mayoritas di Mesir, ia juga harus melindungi hak-hak Kristen Koptik yang minoritas dan setiap warga Mesir, apa pun agama mereka, karena mereka dijamin memiliki hak yang setara oleh Konstitusi.

Akibatnya, beberapa saluran televisi Islam dan organisasi pemuda Ikhwanul Muslimin menampilkan sejumlah video dan artikel daring untuk menolak ElBaradei. Banyak orang kemudian berkomentar menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi mendukung ElBaradei karena ia ingin memisahkan agama dari negara. Selain itu, meski Ikhwanul Muslimin masih mendukung pencalonan ElBaradei, mereka tidak setuju dengan ide-ide AlBaradei mengenai perubahan yang demokratis, termasuk pemisahan antara agama dan negara.

Reaksi keras ini menimbulkan kecemasan di kalangan warga Mesir yang berpikir bahwa mayoritas warga negara ini tidak siap menghadapi perubahan drastis, yang berarti memberikan jaminan hak yang setara kepada kelompok agama minoritas dan tidak lagi menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai sumber utama perundang-undangan Mesir.

Banyak warga Mesir yang percaya bahwa rencana reformasi yang diusulkan ElBaradei mencakup menghapuskan pencantuman agama dalam kartu tanda penduduk, mengakhiri penerapan hukum Islam dalam masalah pernikahan dan perceraian bagi non-Muslim, serta menghapuskan peraturan yang menyulitkan kalangan minoritas untuk mendirikan rumah ibadah dan undang-undang anti-misionaris.

Tetapi, banyak juga yang percaya bahwa jika Mesir menyelenggarakan pemilu yang bebas dan adil, Ikhwanul Muslimin—yang menolak pencalonan orang Kristen dan perempuan sebagai presiden—akan terpilih, dan memperkuat sentimen konservatif di kalangan mayoritas.

Peluang ElBaradei untuk memenangkan pemilihan presiden masih dibatasi oleh sensitivitas warga Mesir terhadap agama. Seandainya debat mengenai kehidupan beragama seputar Elbaradei mereda dan ia menjadi calon resmi yang kemudian memenangkan pemilu 2011, sebagian warga Mesir khawatir ia akan ditekan untuk memilih antara menerapkan rencananya melakukan perubahan untuk demokrasi dengan resiko akan dianggap sebagai “agen Amerika” atau “musuh Islam”, atau berkompromi dengan tokoh masyarakat dan elit politik yang ada sekarang ini dan tidak melaksanakan sebagian janjinya seperti memberikan hak setara kepada minoritas.

Agar warga Mesir di masa depan tahu bagaimana reformasi demokratis yang dijanjikan oleh ElBaradei dalam tujuh butir rencananya itu, pemuka-pemuka agama Mesir yang terkemuka—Muslim maupun Kristen—harus menolongnya mengakhiri debat yang ada dan menyatakan dukungan mereka dengan lebih vokal terhadap kampanye ElBaradei untuk membangun masyarakat Mesir yang setara dan toleran.

Warga Mesir mesti mengerahkan segala upaya mereka dan mengampanyekan ElBaradei di lingkungan mereka, membantu memupuk budaya toleransi agar warga negara itu menerima persamaan hak bagi semua orang, apa pun identitas keagamaan mereka. Meski mengubah pola pikir itu adalah proses yang panjang, dukungan dari tokoh-tokoh agama yang terkemuka di Mesir bisa menolong ElBaradei meraih popularitasnya lagi dan mendudukkannya kembali dalam percaturan kampanye pemilu 2011.

###

* Yasser Khalil adalah wartawan Mesir. Artikel ini merupakan bagian dari seri hukum Islam dan Minoritas non-Muslim yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 16 Juli 2010, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Saya menerima enam pertanyaan dari beberapa orang yang bekerja bagi Layanan Berita Common Ground. Saya berharap agar para mahasiswa dan ahli di universitas kami (Al Azhar), sekaligus mereka yang peduli dengan berbagai hal intelektual secara umum, akan mencatat upaya di balik pertanyaan-pertanyaan ini, bagaimana mereka diterbitkan hanya setelah pengumpulan informasi secara ekstensif dan kajian yang dapat mengisi kekosongan, dan setelah pemikiran yang terorganisasi yang menarik hubungan - hubungan antara berbagai kenyataan dan yang tidak menyibukkan diri dengan ilusi, membuang waktu, dan kepicikan yang meruntuhkan bangunan pengetahuan."

- Sheikh Ali Gomaa, Imam Agung Mesir
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Bahaya sensor media di Pakistan
Aktivis dunia maya: dari peselancar internet menjadi aktor internet
Dialog lebih butuh keberanian ketimbang perang
Jawaban Kazakhstan terhadap terorisme dan intoleransi
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Bahaya sensor media di Pakistan oleh David A. Andelman
Aktivis dunia maya: dari peselancar internet menjadi aktor internet oleh Rita Chemaly
Dialog lebih butuh keberanian ketimbang perang oleh Haider Al-Mosawi
Jawaban Kazakhstan terhadap terorisme dan intoleransi oleh Claude Salhani