Hubungan Muslim-Barat
 
Nashr Hamid Abu Zayd: Antara Rasa Kehilangan dan Inspirasi yang Mengayakan
oleh Reuven Firestone
23 Juli 2010
Cetak
Email
Los Angeles, California – Seberkas cahaya terang kecendekiaan Islam baru saja meredup bulan ini di Kairo seiring wafatnya Profesor Nashr Hamid Abu Zayd 5 Juli lalu. Saya bertemu dengannya musim semi beberapa bulan silam di ajang konferensi internasional “al-Qur’an dalam Konteks Sejarahnya” yang diadakan di University of Notre Dame, di mana ia dan Profesor Abdolkarim Soroush, filsuf dan intelektual besar Iran, menjadi pembicara utama, yang bagi saya adalah salah satu presentasi paling hebat yang pernah saya saksikan dalam forum akademis.

Kedua Muslim ini menurut saya mewakili puncak ekspresi intelektual dan etis di kalangan pemeluk agama Islam.

Sayangnya Abu Zayd lebih sering dikenal selaku orang yang pernah diadili oleh pengadilan sipil di Kairo pada pertengahan 1990-an dan “divonis murtad”, dan kemudian dipaksa oleh pengadilan untuk menceraikan istri tercintanya sebelum meninggalkan Mesir dan hijrah ke Barat. Ia tentu bukanlah seorang murtad melainkan orang beriman sejati yang mempunyai kehidupan intelektual dan spiritual seperti para ulama klasik, seorang cendekiawan Muslim yang memadukan kepakaran dalam fikih dengan filsafat, retorika, teologi dan hermeneutika al-Qur’an.

Seperti cendekiawan abad ke-11, Ibn Sina, dan cendekiawan abad ke-12, Ibn Rusyd, dan seperti tokoh-tokoh sezaman mereka, rabi dan filsuf Yahudi abad ke-12, Maimonides, dan pendeta Kristen Italia, Thomas Aquinas, Abu Zayd sangat menekankan pemikiran kritis terhadap teologi dan bahkan terhadap sesuatu yang paling enggan diutak-atik oleh orang beriman, yakni wahyu.

Untuk ini dia harus menanggung konsekuensinya, bukan karena dia seorang Muslim atau karena Islam tidak mendukung otokritik. Ia bahkan adalah sepenuhnya produk dunia Muslim kontemporer. Abu Zayd meraih gelar sarjana, master dan doktornya dari Universitas Kairo dalam Kajian Arab dan Islam – bukan di Sorbonne, Oxford atau Princeton. Ia besar dan tinggal di negaranya, Mesir, sampai diasingkan pada 1995.

Kalaulah ia hidup pada masa lain, hidupnya tentulah berbeda. Pada saat Barat disibukkan oleh Perang Salib, dunia Muslim melahirkan ulama-ulama hebat seperti pujangga dan teolog sufi besar, Jalaluddin al-Rumi, ahli botani dan farmasi terbesar Abad Pertengahan, Abdallah ibn al-Baitar, dan dokter Ibn al-Nafis, yang menemukan fungsi pembuluh darah jantung, dan rumah sakitnya di Kairo menjadi tempat belajar para dokter Kristen, Yahudi, dan Muslim.

Abu Zayd menulis belasan buku dan puluhan artikel. Ia sering diminta meninjau buku-buku karya cendekiawan Barat ternama di bidang Islam dan sejarah Muslim, seperti William Graham dari Harvard, dan Michael Lecker dari Hebrew University, Yerusalem. Ia berani dalam berpikir tapi bersahaja dalam hidup.

Sayangnya, banyak bagian dunia Muslim tengah mengalami masa ketika pemikiran dan kreativitas seperti yang dimiliki Abu Zayd ditindas oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter, yang melakukan segala cara demi obsesi mereka mempertahankan kekuasaan. Kekuatan paling mengancam bagi para penguasa lalim selalu saja adalah intelektual sejati dan pemikir kreatif, yaitu mereka yang mau berteriak ketika sang penguasa melakukan hal yang keliru. Teriakan itu tak hanya melalui jalur politik tapi juga melalui pemikiran kesarjanaan dan seni.

Kita kehilangan Abu Zayd, tapi kita diperkaya oleh inspirasinya. Sejumlah sarjana kritis Muslim yang menggeluti kesarjanaan Islam, termasuk Qur’an, banyak bermunculan dalam beberapa tahun terakhir. Belasan Muslim menyampaikan makalah pada konferensi Notre Dame musim semi lalu, dan Muslim yang menghadiri dan menyelenggarakan konferensi-konferensi akademis tentang Islam di Amerika Serikat, Eropa, Asia Selatan dan Timur Tengah kini lebih banyak ketimbang satu dasawarsa yang lalu.

Dalam iklim politik dunia Muslim sekarang, semakin sulit bagi para sarjana Muslim seperti Nashr Abu Zayd untuk bisa didengar. Daripada mengeluh bahwa mereka tidak berbuat apa-apa, kita perlu mendukung komunitas kaum Muslim yang berjuang menamatkan karya penting mereka.

###

* Reuven Firestone adalah profesor Islam dan Yudaisme Abad Pertengahan di Hebrew Union College dan Kodirektur Center for Muslim-Jewish Engagement, University of Southern California. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) seizin penulis.

Sumber: Jewish Journal, 9 Juli 2010, www.jewishjournal.com
Telah memperoleh izin publikasi.
 
 
 
Bloger bulan ini
 
 
 
 
 
 
EDISI KHUSUS
 
 
 
 
 
ARSIP ARTIKEL
 
 
 
 
 
PANDANGAN KAUM MUDA
 
 

 

Artikel lain dalam edisi inin

Al-Ikhwan al-Muslimun dan kaum liberal: mitra perubahan di Mesir? oleh Bilal Y. Saab
Upaya Mengakhiri intoleransi di Indonesia oleh Luther Kembaren
Generasi baru Muslim pendidik perdamaian oleh Amina Rasul dan Qamar-ul Huda
Mesir dalam kacamata hitam orang Barat oleh Sanna Negus