Dibalik prestasi olahraga perempuan Pakistan

oleh Sara Khan
03 Desember 2010
Cetak
Email
London – Pada saat banyak orang Pakistan berpikir bahwa tampaknya hampir semua yang buruk terjadi di Pakistan – mengingat adanya banjir, bom bunuh diri, melemahnya demokrasi, tuduhan korupsi dan kecurangan terhadap tim kriket putra nasional – tim kriket putri Pakistan dan kemenangan mereka di Asian Games ke-16 di Guangzhou, China telah membuat banyak orang Pakistan bisa melihat secercah harapan bagi masalah-masalah mereka. Seperti dikatakan seorang komentator di media, mereka adalah para “putri emas” Pakistan.

Pakistan menyambut kemenangan tim kriket putrinya dengan penuh gembira dan bangga, terlihat dari banyaknya liputan media dan ucapan selamat dari Presiden Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani, yang menandai perubahan dalam perlakuan terhadap olahraga perempuan di Pakistan, baik di tingkat rakyat maupun kelembagaan. Bahkan, pada acara perayaan kemenangan tim, Zardari menyuarakan harapannya agar para atlet putri Pakistan terus maju dalam bidang olahraga, dan menyebut medali emas tim kriket itu sebagai sebuah “hadiah bagi bangsa yang tengah mengalami serangkaian krisis.”

Kemenangan ini telah membuat tim kriket putri tidak lagi tak dikenal, khususnya dibanding tim putra yang sudah lebih dulu kondang. Kemenangan ini juga menandai adanya perubahan di Pakistan. Konsep tim kriket putri dulunya ditentang keras, termasuk dengan pemerkaraan lewat jalur hukum dan ancaman pembunuhan pada Shazia dan Sharmeen Khan, dua perempuan bersaudara yang mencoba memperkenalkan tim putri pada 1996. Khan bersaudara berada di balik upaya pendirian Pakistan Women’s Cricket Control Association (PWCCA), asosiasi yang didirikan pada Januari 1996.

Pada tahun yang sama PWCCA terafiliasi dengan International Women's Cricket Council (IWCC) sebagai anggota. Pemerintah di bawah Nawaz Sharif berulang kali menolak mengizinkan mereka bermain, dengan klaim alasan-alasan keagamaan melarang mereka bermain di muka umum. Namun, pada 1997, tim ini akhirnya diizinkan bertanding melawan Selandia Baru dan Australia, yang merupakan penampilan perdana mereka di lapangan.

Tim kriket putri telah cukup kenyang menghadapi kontroversi: Pakistan Cricket Board, organisasi olahraga yang bertanggung jawab atas semua atlet kriket profesional di Pakistan, sempat menolak bahkan untuk sekadar mempertimbangkan mereka sebagai tim nasional. Baru setelah melalui perjuangan hukum yang lama oleh PWCCA, pada Desember 2004 Pakistan Cricket Board akhirnya mengakui tim putri.

Atlet-atlet perempuan di Pakistan juga sering kali harus melewati perjuangan yang tak mudah. Misalnya, pernah pemerintah provinsi Punjab berkeras melarang maraton putri. Salah seorang tokoh agama di provinsi itu mendukung pelarangan tersebut dan mengatakan, "Dalam budaya kita, tidak ada orangtua yang ingin melihat anak perempuan mereka lari di jalanan bersama anak lelaki, dan apalagi bercelana pendek." Olahraga putri profesional telah lama menjadi masalah yang diperdebatkan di Pakistan. Di negara di mana laki-laki kerap mendiktekan bagaimana budaya dan agama seharusnya mengatur kehidupan para perempuan, olahraga – terutama yang dimainkan di lapangan terbuka – dianggap sebagai perbuatan melanggar oleh orang-orang agamis konservatif.

Tapi para perempuan ini bisa mengatasi batas-batas yang kadang terlalu diatur dan mengekang dengan keberanian yang mengagumkan dan prestasi yang fenomenal.

Pemain kriket putri berasal dari semua daerah Pakistan: Balochistan, Punjab, Sindh dan Khyber Pakhtunkhwa. Masing-masing punya cerita perjuangan, perlawanan dan keberanian sendiri, dan berandil pada berubahnya gambaran tentang perempuan Pakistan –dari posisi sebagai korban ke arah perlambang kekuatan dan keteguhan.

Saat tumbuh besar, banyak anak perempuan Pakistan tidak bisa benar-benar mengungkapkan cita-cita mereka untuk menjadi bagian dari tim olahraga tanpa dicemooh dan diolok-olok oleh teman-teman mereka. Tapi kemenangan tim kriket putri telah memberi anak perempuan Pakistan lebih banyak pilihan untuk masa depan mereka. Dan, meski kegembiraan dan sukaria meluap di media, putri-putri emas ini, yang bersatu karena cinta mereka pada olahraga, boleh jadi tidak menyadari bahwa mereka telah membuka banyak kesempatan bagi para perempuan Pakistan lainnya. Seperti dikatakan salah satu pemain, “Kami bukanlah para perintis. Kami hanya mengikuti jejak teladan para perempuan kuat Pakistan.”

###

* Sara Khan ialah mahasiswa pascasarjana di London School of Economics and Political Science, London. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 3 Desember 2010, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Memang cukup mengagumkan, jika Anda tanyakan saya... untuk membuat [saluran-saluran media] menerbitkan sebuah artikel Common Ground, apalagi menyerukan sebuah pembaruan atas upaya - upaya untuk menafsirkan kembali ayat-ayat suci Islam melalui sebuah ijtihad baru. Semua orang ingin tahu bagaimana cara menjangkaunya. CGNews melakukannya."

- Shamil Idriss, Direktur Sekretariat Persekutuan Peradaban PBB (UN Alliance of Civilizations)
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Melindungi orang Kristen di Irak
Ketika muslim menjadi bagian integral seminari di Amerika
Misi mulia pendaki gunung muda asal Mesir
Pandangan rakyat Afghanistan tentang Afghanistan
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Melindungi orang Kristen di Irak oleh Ahmed K. Fahad
Ketika muslim menjadi bagian integral seminari di Amerika oleh Joshua M. Z. Stanton
Misi mulia pendaki gunung muda asal Mesir oleh Rasha Dewedar
Pandangan rakyat Afghanistan tentang Afghanistan oleh Karl F. Inderfurth dan Theodore L. Eliot Jr.