Realitas yang berubah adalah peluang bagi Israel dan negara-negara tetangga

oleh Ghanem Nuseibeh dan Naava Mashiah
13 Mei 2011
Cetak
Email
London dan Jenewa – Adanya berbagai pemberontakan di Timur Tengah tengah menjadikan kawasan ini wilayah yang belum terpetakan. Tapi, saat kekuatan internasional dan kekuatan regional lainnya berjuang menyelaraskan diri dengan kenyataan yang berubah ini, ini juga menjadi sebuah peluang bagi Israel dan negara-negara Arab untuk menjalin hubungan ekonomi yang saling menguntungkan dan untuk bersatu demi kepentingan regional bersama.

Berbagai pemberontakan di Arab tengah membentuk kembali hubungan di kawasan jauh lebih cepat dari yang biasanya dilakukan para pemain di kawasan. Misalnya, hubungan pra-revolusi antara Israel dan Mesir kini tengah ditinjau kembali oleh orang Mesir. Sebuah jajak pendapat baru-baru ini oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa 54 persen orang Mesir ingin membatalkan perjanjian damai dengan Israel. Jika ini terjadi, Israel tampaknya akan kehilangan kapasitas gas yang diinginkannya, yang 40 persennya disuplai oleh Mesir. Dan negara-negara Arab yang lain juga akan mengevaluasi kembali hubungan mereka dengan Israel.

Dalam situasi sekarang, Israel memiliki dua pilihan. Israel bisa menerima untuk semakin dikucilkan di kawasan, atau menggunakan situasi ini sebagai sebuah peluang pada saat ketika kepentingan-kepentingan geopolitik tengah diselaraskan dan aliansi-aliansi dibentuk ulang. Demikian pula negara-negara Arab: mereka bisa menjadi lebih tergantung pada bantuan asing, atau mengakui bahwa di depan mereka ada tetangga yang bisa membantu mereka mewujudkan kemandirian yang lebih besar.

Israel dan negara-negara Arab kini sama-sama perlu memastikan bahwa kawasan bisa bertahan dengan perubahan-perubahan yang terlahir akibat adanya pemberontakan, dan perlu menyadari peluang yang dimunculkan oleh kenyataan yang tengah berubah ini.

Tentu batu sandungan terbesar adalah konflik Palestina-Israel, yang arti pentingnya tidak boleh dianggap remeh. Mengingat sentimen anti-Israel yang meluas di dunia Arab terutama terkait dengan konflik dengan orang Palestina, bekerjasama dengan orang Israel akan menjadi tugas yang sangat sulit dijual di “jalan Arab” (opini publik di dunia Arab).

Tapi realitas politik yang berubah kini memberikan sebuah momentum yang jika dimanfaatkan bisa mendorong para pemimpin Palestina dan Israel menggunakan pendekatan yang lebih berorientasi aksi. Rakyat Palestina bisa menjadi yang paling diuntungkan dengan kolaborasi ini. Mereka akan memegang kunci integrasi Israel ke dunia Arab dan semestinya menggunakan ini tidak saja sebagai daya tawar, tapi juga sebagai jalan untuk tidak terpaku pada konflik ini.

Negara-negara Teluk umumnya dipandang secara positif oleh rakyat Palestina karena mereka tidak memainkan peran yang sama seperti negara-negara Arab lainnya dalam sejarah konflik Arab-Israel. Hubungan ini bisa menjadi sebuah peluang bagi rakyat Palestina untuk memainkan peran kunci sebagai pembangun jembatan dalam memperkuat hubungan ekonomi antara Israel dan negara-negara Teluk.

Keuntungan yang mungkin dipetik Teluk sangatlah lumayan. Kerugian yang sepertinya permanen dalam sektor keuangan Bahrain sebagai akibat pemberontakan di sana tengah memaksa bank-bank untuk direlokasi ke Dubai untuk sekarang ini, tapi mungkin saja malah ke luar kawasan. Jika ini terjadi, negara-negara Teluk akan perlu mengintensifkan upaya diversifikasi ekonomi mereka. Ada keinginan besar di Teluk untuk menjadi lahan industri teknologi mutakhir, tapi mereka menunjukkan raihan yang tidak terlalu menonjol sejauh ini.

Israel bisa membantu Teluk untuk membuat pergeseran ini, dan Israel juga akan banyak mendapat keuntungan dari hubungan semacam itu. Israel tidak mampu mempertahankan kultur korporat dan modal untuk memampukan berbagai bisnis startup berteknologi tingginya untuk berkembang menjadi pemuka industri internasional yang berhasil. Setelah beberapa tahun, bisnis-bisnis startup Israel cenderung pindah ke Barat. Tapi Teluk bisa memastikan bahwa bisnis startup ini tidak meninggalkan Timur Tengah yang baru dan beralih ke Barat. Modal – dan hingga tingkat tertentu, kultur korporat yang baru lahir tapi tumbuh – telah ada di Teluk.

Kolaborasi ini bisa juga membuat terciptanya lebih banyak lapangan kerja, yang sangat dibutuhkan oleh kawasan ini. Kegagalan bisa berarti berlanjutnya kecenderungan para sarjana atau tenaga terampil untuk hijrah ke luar negeri, ketegangan sosio-ekonomi yang meningkat, dan berisiko melanjutkan ketidakstabilan.

Realitas yang berubah menantang Timur Tengah untuk tidak terpaku pada “keadaan seperti biasa”, dan menantang Israel untuk berbaur alih-alih mengucilkan diri dari kenyataan baru.

Terdapat dorongan, motivasi dan tanggung jawab agar negara-negara Timur Tengah berkolaborasi lebih erat demi kemakmuran kawasan di masa depan. Kita hanya perlu mengubah lensa dan memandang kawasan secara berbeda – termasuk partisipasi penuh semua negara tetangga.

###

* Ghanem Nuseibeh ialah seorang konsultan asal Palestina yang bekerja di Inggris dan pendiri Cornerstone Global Associates Ltd. Naava Mashiah ialah seorang konsultan asal Israel yang bekerja di Swiss, CEO dari M.E. Links, Konsultan Senior ISHRA dan redaktur berita ekonomi MEDABIZ.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 May 2011, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Anda memperoleh izin saya [untuk menerbitkan artikel-artikel saya]. Selalu terkesan dengan layanan berita ini."

- John Esposito, Profesor Universitas dan Direktur Pendiri Pusat Pengertian Muslim-Kristen Pangeran Alwaleed Bin Talal pada Georgetown University
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
Bersatunya Palestina menjadi kesempatan emas bagi semua
Meninggalkan era bin Laden
“Musim Semi Arab” dan tidak pentingnya Al-Qaeda
Orang Yahudi berikan al-Qur’an ke orang Muslim
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

Bersatunya Palestina menjadi kesempatan emas bagi semua oleh Khaled Diab
Meninggalkan era bin Laden oleh Sydney Smith
“Musim Semi Arab” dan tidak pentingnya Al-Qaeda oleh Khaled Hroub
Orang Yahudi berikan al-Qur’an ke orang Muslim oleh Habeeb Alli