Humus dengan bumbu kerukunan di Israel

oleh Leigh Cuen
11 Oktober 2013
Cetak
Email
Acre, Israel – Dari puluhan restoran ternama di Kota Tua, Sohel Hummus adalah satu-satunya yang dikelola oleh pengusaha perempuan, Hendy Sohela. Dinding-dinding restoran ini dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat Quran, foto-foto masjid Kubah Batu dan sebuah layar televisi yang menampilkan siaran dari Tanah Suci Mekah.

Orang-orang Mesir kuno pertama kali menyebut kota Acre dalam pahatan hierogliph. Pada tahun 66 M, kota ini merupakan pangkalan bagi orang Romawi untuk membekuk pemberontakan Yahudi. Kaum Muslim menaklukkan kota ini pada tahun 638, diikuti oleh Tentara Salib pada tahun 1104. Napoleon mengepungnya pada 1799, namun tidak dapat menaklukkannya. Sekarang, Acre masih menyimpan keragaman agama yang serupa dengan Yerusalem. Namun, Acre punya iklim sosial yang unik. Orang-orang dari semua latar belakang mendapatkan kesempatan yang setara di bidang kuliner yang sedang berkembang di kota ini.

Sohela mewarisi restoran tersebut dari ayahnya, Abo Sohel, pada 1993. “Tak gampang menjadi perempuan pertama yang mengelola restoran humus di Kota Tua. Humus sudah menjadi tradisi di Acre. Awalnya keluarga saya menentangnya,” kata Sohela. “Namun, saudara-saudara saya mendukung. Setelah ayah meninggal, ibu pun sakit dan salah satu saudara menjadi tuna netra. Jadi tinggal saya yang jadi harapan untuk melestarikan resep keluarga.” Pada 2005, Sohela memenangkan peringkat pertama dalam sebuah kompetisi nasional yang dipandu oleh juru masak selebriti Israel, Oren Giron dan Moshe Segev. Ia dianugerahi sebuah plakat dengan roti pita (roti khas Timur Tengah) emas dan humusnya dianggap yang terbaik di Israel.

Menurut Biro Pusat Statistik Israel, hampir semua warga Kota Tua Acre adalah orang Arab, sekitar 20 persen dari keseluruhan penduduk kota ini. Di akhir pekan, daerah ini dipenuhi orang-orang dari daerah utara, yang umumnya memisahkan orang Arab dan Yahudi. Mereka berbondong-bondong ke berbagai restoran di Kota Tua, dari tempat-tempat yang baru dan trendi hingga tempat-tempat tradisional milik keluarga.

David Harari, seorang pejabat yang mengurus pariwisata di Acre, mengatakan bahwa kota ini setiap tahunnya menarik 100.000 wisatawan dari seluruh dunia. Kota ini memiliki sejumlah situs suci, termasuk Taman Bahai di Bahji, Gereja Santo George, Masjid Jezzar Pasha dan Or Torah, sebuah sinagog Tunisia yang dihiasi mosaik seni.

Restoran humus Sohela sekarang adalah sebuah tempat makan yang multikultural, baik bagi orang-orang dari Utara maupun para wisatawan, Kristen, Muslim, Yahudi dan Druze. “Humus saya seperti bunga,” katanya. “Saya seorang Muslimah, namun bunga tidak hanya terdiri dari kelopak. Para petani lokal yang menyuplai bahan-bahan dan para pelanggan yang makan berasal dari setiap komunitas di Israel. Ketika orang-orang makan humus yang enak bersama-sama, mereka tidak berdebat. Mereka diam dan makan dengan senang.”

Saat ini, Sohela mengatakan bahwa ia merasa sejajar dengan semua pebisnis lelaki di kota ini, dan satu-satunya masalah yang ada sekarang adalah menemukan lahan parkir dekat restoran-restoran yang ramai. “Saya tidak bisa mengatakan kalau saya mempunyai hak yang sama seperti para pebisnis Yahudi. Saya tidak pernah menjadi orang Yahudi.” katanya. “Namun, saya tidak merasa ada diskriminasi. Hanya para politisi yang memisah-misahkan kita dalam bermacam-macam kategori. Di Acre, kita semua sama.”

Di seberang jalan, koki humus Issa Makhol, seorang penganut Kristen Maronit, sepakat bahwa kawasan kuliner Acre menumbuhkan kerukunan damai. Makhol mewarisi restoran humusnya dari kakeknya yang pertama kali membuka bisnis ini pada 1950. “Atmosfir ini tak bisa ditemui di Yerusalem atau Tel Aviv,” katanya. “Ini unik. Masyarakat kami yang beragam-ragam memiliki posisi yang setara dan memiliki hubungan yang sangat baik.”

Makhol berpandangan bahwa interaksi normal yang rutin menumbuhkan iklim toleransi yang unik di Acre. “Terlepas dari sejarahnya,” katanya, “hidup berdampingan, bekerja dan makan bersama, ini adalah cara setiap generasi belajar untuk rukun.”

Banyak yang telah berubah sejak Sohela pertama kali mengambil alih restoran ayahnya di seberang jalan. Sekarang, istri dan ibu Makhol juga bekerja di restoran keluarganya. Ia sudah merasa tenang kalau nantinya harus mewariskan kendali bisnis ini kepada mereka ketika ia tiada; semuanya terasa sangat alamiah.

Perekonomian Acre maju karena bisnis makanan independen, yang umumnya dimiliki kaum minoritas. Menurut Sohela tidak ada formula universal untuk meniru keberhasilan ekonomi ini. “Setiap perempuan harus memutuskan kesuksesannya sendiri. Mungkin ada yang menginginkan sebuah restoran dan ada juga yang ingin tetap di rumah bersama anak-anak,” katanya. “Sukses tidak diukur dari jumlah perempuan yang memiliki restoran. Sukses adalah hak yang setiap orang miliki untuk membuat pilihannya sendiri.”

###

* Leigh Cuen adalah seorang penulis asal California, yang kini tinggal di dekat Laut Mediteranea di Tel Aviv. Karyanya telah dimuat oleh Al Jazeera English, Salon, World Literature Today dan lain-lainnya. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 11 Oktober 2013, www.commongroundnews.org/index.php?lan=ba
Telah memperoleh izin publikasi.
 
 
 
 
VIDEO MINGGU INI
Saran dari penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri

Dalam video ini, Kantor Berita Common Ground (CGNews) berbincang dengan penerima Hadiah Pendidikan Perdamaian El-Hibri tahun ini, Dr. Betty Reardon, dan sahabatnya, Cora Weiss, Ketua Umum Hague Appeal for Peace, untuk menanyakan apa yang bisa dilakukan oleh orang awam dan meminta nasihat mereka untuk generasi aktivis perdamaian berikutnya.
 
 
 
 
"Jarang sekali kita menemukan sebuah sumber yang memberikan keseimbangan dan mendorong rekonsiliasi, pengertian, and koeksistensi Timur Tengah. Layanan Berita Common Ground menyediakan semua ini secara konsisten. Di atas semua itu, layanan ini memberikan elemen yang tak dapat diukur tapi paling mendasar artinya, harapan bagi masa depan seluruh rakyat Timur Tengah."

- Ziad Asali, presiden American Task Force on Palestine
 
 
 

It takes 200+ hours a week to produce CGNews. We rely on readers like you to make it happen. If you find our stories informative or inspiring, help us share these underreported perspectives with audiences around the world.

Monthly:

Donate:

Or, support us with a one-time donation.

 
 
 
ARTIKEL LAIN DALAM EDISI
~Kilas Balik~ Islam dan demokrasi tidak berbenturan di Tunisia
Boikot anti-normalisasi merugikan semua pihak
 
 
 
 
 
 
 
200+
 
 
# of hours per week to create one edition
 
 
8
 
 
# of editors in 6 countries around the world
 
 
30,000
 
 
# of subscribers
 
 
30
 
 
Average # of reprints per article
 
 
4,800
 
 
# of media outlets that have reprinted our articles
 
 
37,307
 
 
# of republished articles since inception
 
 
6
 
 
# of languages CG articles are distributed in
 
 
2000+
 
 
# of writers since inception
 
 
'

 

Artikel lain dalam edisi inin

~Kilas Balik~ Islam dan demokrasi tidak berbenturan di Tunisia oleh Radwan Masmoudi
Boikot anti-normalisasi merugikan semua pihak oleh Daniel Noah Moses